<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253</id><updated>2011-04-21T19:10:07.978-07:00</updated><category term='manifesto'/><category term='essai'/><category term='mahdiduri'/><category term='lee birkin'/><category term='pertunjukan'/><category term='teater'/><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><category term='bayan sentanu'/><category term='seni'/><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-474444209456656895</id><published>2009-05-02T03:07:00.001-07:00</published><updated>2009-05-06T05:27:23.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manifesto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pertunjukan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Serang- Diakhir acara Beckett's Parade (30/4), para pekerja seni yang terlibat di dalamnya membuat kejutan, dengan mengeluarkan sebuah Manifesto Serikat Seni Pertunjukan (di) Banten. menurut Mahdiduri selaku ketua pelaksana, manifesto tersebut ditujukan sebagai sebuah gerakan moral dalam menyikapi persoalan Taman Budaya Banten yang sampai saat ini pembangunannya terbengkalai. Manifseto tersebut berisi beberapa poin tuntutan, berikut isi manifesto Serikat Seni Pertunjukan (di) Banten:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MANIFESTO&lt;br /&gt;SERIKAT SENI PERTUNJUKAN (di) BANTEN&lt;br /&gt;Seolah ingin mengejar ketertinggalan dari wilayah lain di Indonesia, Banten  sebagai provinsi baru, begitu gencar membangun infrastruktur pemerintahan. Pembangunan yang dipusatkan di KP3B yang terletak di Desa Curug-Serang, diproyeksikan menjadi sebuah wilayah kebanggaan elit birokrasi. Dalam cetak birunya, pembangunan infrastruktur KP3B berisi seluruh kantor Dinas Pemerintahan Provinsi Banten, Mesjid Raya dan juga termasuk di dalamnya Taman Budaya Banten (TBB).  &lt;br /&gt;Terkait dengan TBB, setelah mengamati wacana pembangunannya lewat berita di media dan artikel-artikel terkait. Nyatalah ada sebuah kontradiksi pemikiran antara para birokrat dengan pihak seniman. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan masih memandang kesenian sebagai momok yang menjijikan sekaligus tak berguna. Bagi mereka, kesenian tidaklah menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), hanya menghabiskan anggaran!!!. Mereka lebih asyik-masyuk dengan bidang-bidang yang mampu mendongkrak pendapatan kas Negara, serta bidang-bidang yang bisa dirasakan hasilnya secara instan. &lt;br /&gt;Sementara itu, betapa kebutuhan tempat pertunjukan begitu tinggi dirasakan para pekerja seni. Sampai saat ini, para pekerja seni teater, musik, senirupa, sastra, tari harus terus berjuang di pojok-pojok kota, bergerilya menghidupkan keseniannya dengan sedikit sekali sentuhan dari pemerintah. Fasilitas, bantuan alat kesenian ataupun dana pengembangan dirasakan begitu sulit di dapatkan oleh komunitas kesenian, yang nota bene juga bagian dari elemen masyarakat yang memiliki hak.  &lt;br /&gt;Begitu banyaknya produk kebudayaan di Banten yang memerlukan ruang representatif agar lebih bisa dikenal dan dihargai. Mana mungkin produk kesenian bisa dikenal jika tidak ada tempat untuk repertoar karya-karya seni masyarakatnya. Dalam konteks ini, kemaujudan Taman Budaya (di) Banten sangat multi fungsi.  Pertama, TBB sebagai wadah apresiasi kreatif masyarakat dan pengembangan budaya di daerah.  Berdirinya TBB akan memudahkan masyarakat dalam mencari lokasi pertunjukan kesenian. Saat ini, bisa dipastikan masyarakat (lokal/luar) tidak tahu harus kemana jika ingin menonton Ubrug dengan jadwal pentas tetap misalnya. &lt;br /&gt;Kedua, TBB sebagai mercusuar pencitraan wilayah. Dimanapun, budaya lokal yang terejawantahkan lewat kesenian selalu dikedepankan dalam publikasi massa untuk menarik wisatawan. Pengemasan kesenian berkualitas dengan menempatkannya dalam sebuah ruang yang layak dan berstandar internasional, tentunya akan meningkatkan nilai jual (Citra) Banten di mata dunia. &lt;br /&gt;Atas dasar itu, sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak, kami yang tergabung dalam Serikat Seni Pertunjukan (di) Banten dengan ini:&lt;br /&gt;1.     Menuntut percepatan pembangunan Taman Budaya Banten, sehubungan dengan rencana pembangunan TBB diakhirkan pada tahun 2012.&lt;br /&gt;2.     Menuntut dalam pembangunannya harus memenuhi standar gedung pertunjukan, jangan sampai terjadi disfungsi. Mengingat disain gedung utama kesenian dalam TBB saat ini, lebih mirip gedung serba guna.&lt;br /&gt;3.     Menuntut dalam pengelolaannya ke depan, segala hal terkait pemakaian dan penentuan harga sewa harus dibicarakan dengan pihak pekerja seni atau yang mewakilinya. Kami menganggap hal itu perlu dilakukan, supaya jangan sampai biaya sewa untuk komunitas kesenian terlalu tinggi atau memberatkan.&lt;br /&gt;4.      Menuntut lewat Pemerintah Provinsi agar mewajibkan seluruh pemerintah daerah Kab/Kota di Banten, membangun gedung kesenian. Hal ini untuk memberikan pemerataan fasilitas bagi komunitas seni yang banyak terdapat di wilayah masing-masing.&lt;br /&gt;5.     Sebagai solidaritas, kami meminta pada para pekerja seni di seluruh wilayah Provinsi Banten. untuk mendesak pemerintahan provinsi dan DATI II agar memenuhi hak pekerja seni sebagai bagian masyarakat dan salah satu penjaga gawang kebudayaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banten, 30 April 2009&lt;br /&gt;1. Mahdiduri               -Microphone The Read Art       Kab Tangerang&lt;br /&gt;2. Ifan Darmawan           -Teater Kain Hitam             Kota Serang&lt;br /&gt;3. Ahmad Wahyuddin         -Teater AnonimuS               Kota Serang&lt;br /&gt;4. Joe WK                  -Teater Wong Kite              Kota Cilegon &lt;br /&gt;5. Irwan Sofwan            -Teater Kini                   Kota Serang &lt;br /&gt;6. Jono                    -Teater Kunci                  Kota Cilegon&lt;br /&gt;7. Roni M. Khalid          -Teater Warakala               Kab Serang &lt;br /&gt;8. Puji                    -teater Gates                  Kab. Lebak&lt;br /&gt;9. Eri Hanibal             -Teater Wajah                  Kota Serang &lt;br /&gt;10. B'jo                   - B'jo Stage                   Bandung&lt;br /&gt;11. Diki Chan              - Akustik                      Kota Serang&lt;br /&gt;12. Purwo Rubiono          -Bantampolis Jazz              Kota Serang&lt;br /&gt;13. Nugraha                - Kubah Budaya                 Kota Serang&lt;br /&gt;14. Budi Harsoni           - KPJ Rangkas Bitung           Kab. Lebak&lt;br /&gt;15. Husnul Khuluqi         -Komunitas Sastra Indonesia(KSI)Tangerang&lt;br /&gt;16. Dedi HS                - WKS                          Kota Serang&lt;br /&gt;17. Aru Adam               -Al Kausar                     Kota Serang&lt;br /&gt;18. Mamah Imas             - Sanggar Panglipur            Kota Serang&lt;br /&gt;19. Eky Jagur              - Teater Cakrawala             Surabaya&lt;br /&gt;20. Piyan Yusdiyana        - Kafe Ide                     Kota Serang&lt;br /&gt;21. Nana Rusyana           -Teater Wajah                  Kota Serang&lt;br /&gt;22. Uly                    -Teater Wajah                  Kota Serang&lt;br /&gt;23. Maya                   -Raksa Budaya                  Kota Serang&lt;br /&gt;24. Bagus S                - Belistra                     Kota Serang&lt;br /&gt;25. Indah Purnama          -Hima Diksatrasia              Kota Serang&lt;br /&gt;26. Wahyu Arya Wiyata      -Kubah Budaya                  Kota Serang&lt;br /&gt;27. Fitri                  -Teater Bale                   Pandeglang&lt;br /&gt;28. Asih                   - Sanggar Selebriti            Kota Serang&lt;br /&gt;29. Anne                   -Teater Studio Indonesia       Kota Serang&lt;br /&gt;30. Ibnu PS Megananda      - Penyair                      Kab Serang&lt;br /&gt;31. Ade                    - Sanggar Tari                 Kota Serang&lt;br /&gt;32. Benni Kusnandar        - Wanda Banten                 Kota Serang&lt;br /&gt;33. Adhy Hendrayana        - Sanggar Embun                Kota Serang&lt;br /&gt;34. YB Roy                 - Perupa Bunderan              Kota Serang&lt;br /&gt;35. Dadi RSN               - Teater 110                   Kota Serang&lt;br /&gt;36. Fitraloka              -Teater Warakala               Kab Serang&lt;br /&gt;37. Solahuddin             -Gesbica                       Kota Serang&lt;br /&gt;38. Tineung Arum           - Raksa Budaya                 Kota Serang&lt;br /&gt;39. Asep Yanto             -teater Lamac                  Kab Serang&lt;br /&gt;40. RB Percussion Art                                     Kota Serang&lt;br /&gt;41. Rampak Badar Sila                                     Kota Serang&lt;br /&gt;42. Kusmiati               -Gentra Budaya                 Kota Serang&lt;br /&gt;43. Serin                  -Teater Kramat                 Kab Serang&lt;br /&gt;44. Kampong Kaujon                                        Kota Serang&lt;br /&gt;45. Joni                   - Musik Basic                  Kab Serang&lt;br /&gt;46. Tineung Arum           - Raksa Budaya                 Kota Serang&lt;br /&gt;47. Aden Hermawan          -Teater 110                    Kota Serang&lt;br /&gt;48. Raffy                  -Gesbica                       Kota Serang&lt;br /&gt;49. Solahuddin             -Gesbica                       Kota Serang&lt;br /&gt;50. Iyank                  -Gesbica                       Kota Serang&lt;br /&gt;51. Desi Indriyani         -Teater Studio Indonesia       Kota Serang&lt;br /&gt;52. Choky                  -Gesbica                       Kota Serang&lt;br /&gt;53. Wayang                 -Kuku Semar                    Kota Cilegon&lt;br /&gt;54. Zen                    -Untirta                       Kota Serang&lt;br /&gt;55. Iroh                   -Saija Adinda                  Kab Serang&lt;br /&gt;56. Rohaendi               -Sanggar Ciwasiat              Kab Pandeglang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-474444209456656895?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/474444209456656895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=474444209456656895' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/474444209456656895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/474444209456656895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/05/serang-diakhir-acara-becketts-parade.html' title=''/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-5357422066769362939</id><published>2009-03-01T06:50:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T07:34:20.164-08:00</updated><title type='text'>Cerpen NUNOLO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/Sa1NgSxCtAI/AAAAAAAAAGQ/872ZMQ9G6p8/s1600-h/Nunolo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/Sa1NgSxCtAI/AAAAAAAAAGQ/872ZMQ9G6p8/s320/Nunolo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308984752928371714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NUNOLO; LAKU SI TOLOL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Bayan Sentanu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih sanggup?” Tanya Uwo sesaat setelah melihat Adi menghela napas panjang dengan wajah meringis. Adi hanya mengangkat tangannya sedada, Uwo mengerti dengan gestur itu, lantas ia pergi ke meja di depan mereka. Ia menjumput sebotol air mineral dan memberikannya ke Adi. &lt;br /&gt;Uwo mengajak Adi duduk di gawir panggung. Setelah membuka tutupnya, Adi menenggak air itu sampai habis setengah botol. Uwo memerhatikan kelelahan yang nampak di wajah kawannya itu, ia melihat jam tangannya yang digeletakkan di samping tas kecilnya, jarum jam sudah menunjuk angka 12.23. Uwo membuang pandangannya ke luar jendela. Tiba-tiba ia tertawa sesaat sesudahnya.&lt;br /&gt;“Kenapa?” Adi merasa heran dengan kelakuan Uwo.&lt;br /&gt;“Tidak. Aku hanya ingat Gogo dan Didi ” Uwo menjawabnya sambil mesam-mesem.&lt;br /&gt;“Ada apa dengan mereka?”&lt;br /&gt;“Mereka itu tolol sekali ya. Menantikan dan melakukan sesuatu yang tidak jelas. Seperti….” Uwo terdiam, dilanjutkan dengan telunjuknya mengarah bergantian ke mereka berdua. Adi menyambutnya dengan tersenyum, begitu pun Uwo, melanjutkan tawanya. Suara mereka menggema di ruang pentas itu.&lt;br /&gt; Selama satu menit, mereka berdua tenggelam dalam gelak tawa. Bagi mereka, lakon Menunggu Godot yang pernah dipentaskan, telah memberi kesadaran tentang pilihan hidup menjadi aktor panggung. Sebuah pilihan yang tak masuk akal sebenarnya. Setidaknya di mata masyarakat pada umumnya. Pernah sekali dalam sebuah workshop teater, waktu itu Adi sebagai pembicara ditanya soal pilihannya di dunia panggung. Adi hanya menjawab – teater telah menjadi napas – sebuah jawaban yang membuat penanya semakin bingung.&lt;br /&gt; Uwo mengambil handuk kecil coklat di tas dan menyampirkan ke bahunya&lt;br /&gt;“Sebentar ya, aku mau ke toilet dulu”&lt;br /&gt;Adi hanya mengangguk. Uwo menuju pintu yang ada di sebelah kiri panggung. Adi kembali menenggak air dalam botol, untuk kemudian, pandangannya disapukan ke seluruh bagian gedung pertunjukan. Tiba-tiba ia merasa asing dengan gedung teater milik kelompoknya itu. &lt;br /&gt;Tirai panggung, rangka besi penahan lampu sorot, ruang peñata lampu, tempat duduk penonton bahkan panggung yang sedang Adi duduki, dirasakan begitu ganjil malam itu. ia merasakan hawa dingin mulai merambat  ke tubuhnya. Apa yang dirasanya, mendadak mengingatkannya pada Vasili, tokoh aktor tua dalam lakon Nyanyian Angsa.&lt;br /&gt;“Inikah yang sebenarnya kau rasakan Vasili? Kesenyapan dan kegetiran hidup di atas panggung di akhir hidupmu?” batin Adi menyeruak gumaman kecil.&lt;br /&gt;”Kini kita sama-sama tua” dilanjutkan dengan senyum miris.&lt;br /&gt;Mendadak, Adi berdiri. Diambil dan diseretnya sebuah kursi yang ada di wing kanan ke tengah panggung. Setelahnya ia menuju ruang lampu, dan menyetel satu lampu yang menyoroti bagian tengah panggung. Selebihnya lampu lain dimatikan.&lt;br /&gt;Ia pun memulainya. Dengan hanya mengenakan kaus putih oblong dan celana pangsi hitam, ia keluar dari kegelapan menuju bagian tercahayai. Rambut panjang penuh uban yang kusut dan wajah pasinya, kian menyempurnakan kegetiran hidup yang sama antara Vasili si tokoh dan Adi sebagai aktor.&lt;br /&gt;Dengan berlagak mabuk, ia memanggil Yeghorka dan Petruskha  beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari ruang manapun. Hanya gema yang menyahut dan hawa dingin menusuk tulangnya yang tua.&lt;br /&gt;“Apa yang kau katakan pada saat seperti ini Vasili? Oh ya, kau berkata; angin yang berhembus di gedung teater ini seperti keluar dari terowongan batu…eh…iya, ini tempat hantu…”&lt;br /&gt;Kalimat demi kalimat meluncur terpatah-patah. Pasalnya, Adi mengucapkan dialog Vasili seingatnya. Terlebih pada dialog-dialog panjang. Meski begitu, ingatan Adi cukup bagus tentang alur cerita Anton Chekov itu. &lt;br /&gt;Pada saat masuk dialog Nikita*) si tokoh pembisik, Adi berlaku seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan Nikita.&lt;br /&gt;- Ah, Nikita!? Cobalah pikir, mereka menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak….eh… Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementasan selesai, untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang ke rumah. Dan aku, akulah…orang tua itu Nikita! Usiaku telah 68, sakit-sakitan lagi dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup- Adi terduduk dan tersandar lemah di kursi kayu itu sambil menangis. &lt;br /&gt;Tanpa disadari, tingkah laku Adi tengah diperhatikan oleh Uwo di pintu kiri panggung, diselimuti tirai hitam, Uwo menyembunyikan diri. Ia tidak ingin mengganggu ekstase yang sedang dialami kawannya itu. Uwo menyadari betul bahwa dialog Vasili yang diucapkan Adi tadi, sebenarnya adalah ungkapan kegelisahan Adi yang paling dalam. Kemiripan jalan hidup Adi dengan Vasili, dirasa Uwo bukan hanya perkara kebetulan, melainkan seperti sebuah peranan yang harus dilalui Adi dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;Di panggung, Adi mencoba bangkit dan melanjutkan peranannya. Tiba-tiba ia menghentakkan kakinya dan menyuruh Nikita mengambil peran Si Tolol . Dalam bayangannya, Nikita sedang merapal doa dan menyipratkan air suci. Adi bertolak pinggang dan  melontarkan potongan dialog Hamlet&lt;br /&gt;- Oh, para pencatat, biarkan aku sendiri! kembalilah kalian! Mengapa kalian bermaksud mencari bauku! Sehingga kalian masuk dalam jebakan!-&lt;br /&gt;Detik itu juga ia tertawa. Ia merasa semakin bergairah, hingga pada satu bagian karena terbawa emosi, ia mengucapkan dialog dengan lantang sambil berdiri di atas kursi. &lt;br /&gt; -Tetapi betapa jeniusnya aku. Aku tidak bisa membayangkan kemampuanku. Betapa fasih, bagaimana menariknya aku, betapa peka dan betapa hebatnya tali senar menggetar di dalam dada ini. Sungguh berdebar perasaanku memikirkannya! Dengarlah sekarang! Tunggu, biar aku tarik napas dulu. Ya, sekarang dengarkanlah ini: berlindung darah Ivan…-&lt;br /&gt; Dialog itu tak terselesaikan. Adi memegang dadanya. Ia batuk keras dan panjang sekali. Ia terduduk di kursi, wajahnya memerah, otot-otot perutnya menegang yang menyebabkan perutnya juga sakit. Ia meraih botol air berisi tinggal seperempat di gawir panggung dan segera meminumnya hingga ludes.&lt;br /&gt;Dengan maksud mengurangi deraan batuk itu, Adi terlentang dilantai sambil tatapannya mengarah ke atas. Ia mengatur napasnya. Sesaat ia merasa tenang untuk kemudian batuk itu menerjang kembali. &lt;br /&gt;Di puncak kesakitannya, ia seperti orang sujud dengan tangan memegangi perut, wajahnya kian merah padam dengan urat-uratnya yang menonjol. Dalam beberapa kali batuk, cairan merah keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;Sambil terus mendengarkan suara batuk, Uwo tetap bersembunyi dibalik tirai. Ia berpikir bahwa akting Adi malam ini sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;“Betul-betul Realis!” batin Uwo. &lt;br /&gt;Satu menit berikutnya, keadaan menjadi hening. Uwo merasa janggal dan tiba-tiba ia teringat sesuatu&lt;br /&gt;“Kok, ada adegan batuk?” &lt;br /&gt;Menyadari sesuatu terjadi, ia bergegas masuk panggung dan betapa terkejutnya ia. Dilihatnya Adi sudah terkapar dengan darah di mulut. Ia menampar pelan pipi Adi, namun tidak ada respon, lantas ia menempelkan telunjuknya ke hidung Adi, tidak ada napas yang keluar. Uwo mulai gusar, ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada orang yang membantunya, namun sia-sia.&lt;br /&gt;Untuk meyakinkan dirinya, Uwo menempelkan telinganya ke dada Adi. Terdengar degup jantung, lemah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis anggota Komunitas Sastra Indonesia dan Teater AnonimuS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-5357422066769362939?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/5357422066769362939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=5357422066769362939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/5357422066769362939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/5357422066769362939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/03/cerpen-nunolo.html' title='Cerpen NUNOLO'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/Sa1NgSxCtAI/AAAAAAAAAGQ/872ZMQ9G6p8/s72-c/Nunolo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-2793414158592358677</id><published>2009-02-15T08:19:00.001-08:00</published><updated>2009-02-15T08:32:03.691-08:00</updated><title type='text'>Banten Nightingale</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCrOJWuXI/AAAAAAAAAGA/A_IpQ-LCH-Q/s1600-h/banten+nightingale+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCrOJWuXI/AAAAAAAAAGA/A_IpQ-LCH-Q/s320/banten+nightingale+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303061871527901554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-2793414158592358677?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/2793414158592358677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=2793414158592358677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/2793414158592358677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/2793414158592358677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/02/banten-nightingale_15.html' title='Banten Nightingale'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCrOJWuXI/AAAAAAAAAGA/A_IpQ-LCH-Q/s72-c/banten+nightingale+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-4741840465644426965</id><published>2009-02-15T08:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T08:29:19.263-08:00</updated><title type='text'>Banten Nightingale</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCrOJWuXI/AAAAAAAAAGA/A_IpQ-LCH-Q/s1600-h/banten+nightingale+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCrOJWuXI/AAAAAAAAAGA/A_IpQ-LCH-Q/s320/banten+nightingale+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303061871527901554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-4741840465644426965?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/4741840465644426965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=4741840465644426965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/4741840465644426965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/4741840465644426965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/02/banten-nightingale.html' title='Banten Nightingale'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCrOJWuXI/AAAAAAAAAGA/A_IpQ-LCH-Q/s72-c/banten+nightingale+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-383236476740725056</id><published>2009-02-15T08:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T08:27:23.414-08:00</updated><title type='text'>Cerpen Dark Blues Piaggio Biru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCFueFWrI/AAAAAAAAAF4/BWPpSFvE5JA/s1600-h/bluerestorationvespa+ilustrasi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCFueFWrI/AAAAAAAAAF4/BWPpSFvE5JA/s320/bluerestorationvespa+ilustrasi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303061227369749170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Bayan Sentanu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka duka kita tidaklah istimewa//karena setiap orang mengalaminya//*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di atas vespa biru yang melaju, Adi mengurai air mata. Sesekali berteriak. Parau suaranya terjepit deru kendaraan dan pekat malam.&lt;br /&gt; Adi menghentikan laju Vespanya tepat di tengah jembatan kali Cidurian. Ia mendongakan kepala, menatap mendung yang memampati langit. Dengan mata yang terus saja menyimbahkan air, ia beranjak ke tepi jembatan. Di sanalah ia berteriak sekeras-kerasnya, tanpa memedulikan beberapa pasang mata yang terpancing teriakannya. Gerimis menghujan menambah lebam hatinya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Kemana saja kau seniman?” Tanya Dillah sesaat setelah Adi memarkirkan Vespanya.&lt;br /&gt;“Kenapa? Kau tak senang aku pulang!?” Adi menjawabnya disertai kembang senyum dibibirnya.&lt;br /&gt;“Ternyata masih sama” Dillah menyodorkan telapak tangannya.&lt;br /&gt;Adi pun menyambangi jabatan itu. kemudian dia masuk ke dalam rumah dan menyalami Ibu dan adik-adiknya. Di keluarganya, Adi sudah dianggap ‘Anak hilang’ karena dia sudah jarang sekali pulang. Jika Adi pulang tentulah ada urusan penting saja, pikiran seperti itu sudah tertanam di keluarganya.&lt;br /&gt;Sore harinya, di amben di tempat pengajian di samping rumahnya, Adi bersendiri, sambil sesekali menyeruput kopi Mocacino di gelas kaca. Pikirannya menerawang kemana entah, hal itu Nampak dari matanya yang menatap kosong daun pohon jambu milik tetangga&lt;br /&gt;“Kau baik-baik saja?” Tanya dillah yang muncul dari samping kanannya. Kemunculan Dillah yang tiba-tiba itu sedikit mengagetkan Adi.&lt;br /&gt;“O..kamu. aku baik saja” jawab Adi sambil melirik Dillah sejenak, untuk kemudian pandangannya kembali ke daun jambu. Awal percakapan sore itu adalah percakapan patah, Tanya jawab terjalin dari kalimat-kalimat pendek yang keluar dari mulut keduanya. Setelah sedikit basa basi sekitar aktifitas keseharian, hening menyergap.&lt;br /&gt;“ Aku punya mimpi. Seperti kau” Dillah memecahkan keheningan itu.&lt;br /&gt;“Apa? Kau?” Adi seperti tak percaya&lt;br /&gt;“Iya. He…Janganlah kau meremehkan kakakmu ini.”&lt;br /&gt;“Wah, ini baru kemajuan. Memangnya kau punya mimpi apa?” &lt;br /&gt;“Saat ini aku sedang menyusun kamus bergambar buat anak-anak. Lima seri.”&lt;br /&gt;“Inggris atau Indonesia?”&lt;br /&gt;“Inggris. Aku suka anak-anak, pendidikan. Aku ingin menyumbangkan pikiranku, tapi tetap aku ingin mendapatkan sesuatu”&lt;br /&gt;“Di jual maksudmu?”&lt;br /&gt;“ Iya. Kau tahu lah gaji guru honor tak seberapa. Terlebih istriku sedang hamil, aku butuh biaya banyak. Dan aku berniat keras bukuku itu harus tercetak sebelum anakku lahir”&lt;br /&gt;Adi terdiam setelah mendengarnya, ia tak menyangka dengan jalan pikiran kakaknya yang maju. Diam-diam dalam hatinya Adi kagum.&lt;br /&gt;“Lantas apa yang sudah kau lakukan untuk mewujudkan mimpimu?”&lt;br /&gt;“Tinggal seri ke lima yang harus aku selesaikan. Dan aku sudah mendapatkan tiga alamat penerbit. Rencananya aku mau ke sana minggu depan” Dillah menunjukan kartu nama para penerbit itu dari dompetnya. Adi melihatnya, lantas tersenyum.&lt;br /&gt;“baguslah kalau kau sudah tahu harus kemana” timpalnya.&lt;br /&gt;Dillah kemudian mengajak Adi melihat disain bukunya di komputer. Mereka pun beranjak ke dalam rumah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Aku pergi ya mak…”Adi mencium telapak tangan Ibunya.&lt;br /&gt;“Ya. Pintar-pintar bawa diri ya” pesan Ibunya sambil mengelus rambut Adi. &lt;br /&gt;Sejatinya Adi sudah tidak nyaman lagi dengan perlakuan Ibunya itu, yang bagi Adi hanya cocok buat anak sekolah. Tapi demi menyenangkan orang tuanya Adi tidak protes. Adi merasa, dua hari tinggal di rumah berjauhan dengan aktifitas seninya sudahlah cukup membuatnya tersiksa. Tidak produktif; ungkapan yang biasanya digunakan olehnya.Ia pun bergegas menyalakan mesin Vespa birunya dan pergi meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;Sepanjang jalan, percakapan dengan Dillah tempo hari terus terngiang-ngiang. Ada keinginan Adi untuk membantu proses pencetakan kamus kakaknya. Mendadak ia teringat pengalaman pahit kawannya yang ditipu oleh pihak penerbit. Waktu itu pihak penerbit mengaku hanya mencetak buku cerpen kawannya sebanyak 2000 kopi dan didistribusikan di toko-toko buku besar. Tapi ternyata kawannya menemukan buku cerpennya beredar bebas di Kwitang Senen. Kualitas buku itu sendiri sangat sempurna, mulai dari berat kertas, tata letak, cover dan hal lainnya. Tentu saja kawan Adi itu penasaran dan mencoba memastikan angka cetak sebenarnya ke pihak penerbit. &lt;br /&gt;Seperti yang sudah diduga, pihak penerbit menyangkal adanya pencetakan ulang tanpa sepengetahuan penulis, terlebih cara pembayarannya royalti.&lt;br /&gt;“Aku harus membantunya” Adi tersadar dari lamunan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Dua bulan sudah berlalu sejak percakapannya dengan Dillah, Adi sudah kembali membenam kan diri dalam produksi pementasan teater komunitasnya. Malam itu, tiga minggu sebelum pementasan, ia tengah berlatih di aula IAIN sampai dini hari. Setengah jam menyambut adzan subuh, ia baru sampai di sekretariat. Ia masuk dan menyalakan lampu. Didapatinya kawannya yang penyair sudah tergeletak tidur pulas. Adi merasa sangat lelah, ia segera mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat.&lt;br /&gt; Baru saja ia hendak mengambil air minum, telepon genggamnya berbunyi.&lt;br /&gt; “ Siapa lagi malam begini nelpon” batin Adi lantas mengambil telepon genggam itu di kamar dan melihat nomor penelpon di layarnya. Ternyata nomor Tania, adik perempuannya, lantas ia mengangkatnya.&lt;br /&gt; “Halo…” Adi menyapa lebih dulu&lt;br /&gt; “Ka Adi, pulang” ucap Tania sambil terisak&lt;br /&gt; “Ada apa?”&lt;br /&gt; “Ka Dillah meninggal” &lt;br /&gt; “Ha!!??” &lt;br /&gt;“Cepat ya ka”&lt;br /&gt;“I..i..iya..” &lt;br /&gt;Saat itu, benak Adi dipepati potongan-potongan gambar kakaknya. Tak ingin tenggelam dalam suasana melankolis, ia pun bergegas menyiapkan diri berangkat pulang. Sepanjang jalan, di atas Vespa,  ia sangat menyesali dirinya, yang terlalu bodoh telah melupakan niat membantu kakaknya itu.&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, ia sudah mendapati kerumunan sanak keluarga dan tetangganya. Ritual pengajianpun sudah berjalan. Di ruang tamu, ia mendapatkan tubuh kaku kakaknya terbujur di tutupi kain. Ia bersimpuh di depan mayat kakaknya dan membuka kain penutup muka, dipandanginya dengan lekat wajah pasi itu, lantas Adi mencium keningnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;- Radang Paru-paru – itulah yang didiagnosa dokter yang menjadi penyebab kematian Dillah. Bagi Adi, yang memberatkan bukanlah kematian Dillah, melainkan istri dan calon anaknya, serta mimpi kakak ke tiganya itu yang ternyata belum terwujud. Tiga hari berkabung, adi menerima kenyataan yang lebih berat baginya. &lt;br /&gt;“Ka, sebelum meninggal, Ka Ade menitipkan ini pada kakak” ucap Titi, istri Dillah dengan terisak menyerahkan manuskrip kamus seri ke lima yang baru saja rampung. Adi menerimanya dengan tangan berat. Saat Adi melihat cover manuskrip buku itu, ia sangat terkejut, namanya tertera sebagai penyusun di samping nama Dillah.&lt;br /&gt;“Apa maksudnya ini Ti?” Adi bingung, merasa ia tidak pernah terlibat dalam penyusunan kamus itu.&lt;br /&gt;“Ka Adi sudah dianggap guru oleh ka Ade, ia sangat mengagumi Ka Adi. Ia ingin Ka Adi meneruskan pekerjaannya ini”&lt;br /&gt;Mendengar itu, Adi seperti dihantam seribu bogam. Ia menutup mata dan merembeslah air matanya. Seolah semua kata bersembunyi dari lidah, Adi hanya mampu menggeretakkan giginya.&lt;br /&gt;“Aku akan lihat, apa yang bisa aku lakukan” Kalimat itu keluar sesudah ia mengerahkan tenaga untuk berdiri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Menangisnya Adi di tepi jembatan malam itu, adalah buah dari kematian ke dua yang di temuinya. Anak Dillah yang baru dua hari menghirup napas, nyawanya harus tercerabut demam tinggi. Awalnya ia meneruskan pekerjaan kakaknya itu untuk anaknya, kini ia tak tahu, untuk siapa ia mewujudkan mimpi kakaknya.&lt;br /&gt;Vespa birunya telah menjadi penyaksi air mata seorang aktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Puisi WS. Rendra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis anggota KSI dan teater AnonimuS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-383236476740725056?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/383236476740725056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=383236476740725056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/383236476740725056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/383236476740725056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/02/cerpen-dark-blues-piaggio-biru.html' title='Cerpen Dark Blues Piaggio Biru'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZhCFueFWrI/AAAAAAAAAF4/BWPpSFvE5JA/s72-c/bluerestorationvespa+ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-4497762475469129316</id><published>2009-02-15T07:52:00.001-08:00</published><updated>2009-02-17T06:28:07.561-08:00</updated><title type='text'>cerpen Jas Hujan di Musim Panas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZrJPdNBFVI/AAAAAAAAAGI/UKs6vO--O1U/s1600-h/jas+hujan+di+musim+panas+copy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 229px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZrJPdNBFVI/AAAAAAAAAGI/UKs6vO--O1U/s320/jas+hujan+di+musim+panas+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303772778556626258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;cerpen Bayan Sentanu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Riuh tepuk tangan terdengar dari arah penonton, lampu sorot kembali menyala dan sudah Nampak Adi dan Uwo ditengah panggung, menundukan kepala dan merentangkan lengannya sebagai tanda penghormatan. Setelah lima menit menikmati tepukan tangan dan siulan penonton, mereka berdua pergi ke belakang panggung. Uwo menjabat tangan Adi dan memeluknya&lt;br /&gt; “Permainanmu sangat sempurna” tandas Uwo sambil menepuk punggung Adi.&lt;br /&gt; “Kau juga” Adi membalasnya.&lt;br /&gt; Mereka berdua pun masuk ke ruang ganti kostum dan salin pakaian. Tak berapa lama, mereka keluar dan sudah nampak keluarga dan kerabat dekat mereka yang hendak memberi ucapan selamat. Adi dan Uwo menyambangi mereka dan terjadilah percakapan kecil, sesekali terdengar juga suara tawa.&lt;br /&gt; Di sela-sela kegembiraan malam itu, ternyata mata Adi tak bisa diam menelisik diantara orang-orang. Dari gesturnya ia seperti sedang menunggu seseorang, ia nampak resah. Uwo menyadari kegelisahan Adi, ia pun mendekati dan menepuk bahunya.&lt;br /&gt; “Jangan dicari, Tami tidak datang” Uwo mencoba menenangkannya. Nyatalah kekecewaan terpancar dari raut muka Adi.&lt;br /&gt; Sesudah semua penonton pergi meninggalkan gedung teater dan kru panggung membereskan perkakas pentas, Adi permisi pergi ke halaman parkir . di sana, ia membuka pintu depan mobil carry dan menghempaskan diri ke kursi. Ia mengambil handphone dari dalam tas dan menyalakannya, ada beberapa pesan singkat masuk, dan kesemuanya dari teman-temannya yang berisi ucapan selamat atau permintaan maaf karena tidak bisa datang. Sayangnya, tidak ada pesan dari Tami.&lt;br /&gt; Merasa penasaran, ia pun memencet nomor telepon Tami. Awalnya nada sambung terdengar tapi tidak ada yang mengangkat. Usaha kedua hanya dijawab nada sibuk. Helaan napas panjang menyusul setelah ia melemparkan handphone itu ke kursi sampingnya. Untuk kemudian ia merebahkan diri di kursi yang sudah di tarik ke belakang bagian sandarannya.&lt;br /&gt; Satu persatu, potongan-potongan gambar peristiwa dua minggu yang lalu melintas kembali dibenak Adi.&lt;br /&gt; Waktu itu siang menjelang sore, di saat Adi tengah berlatih teater di studio kelompoknya guna pementasan Jas Hujan Di Musim Panas. Dengan mengenakan jas hujan, Adi dan Uwo memilin kalimat-kalimat menjadi dialog, disertai pengaturan gerak. Di saat itulah muncul Tami di pintu masuk. Untuk sesaat kedatangan Tami mengganggu konsentrasi Adi, untungnya Adi segera sadar dan kembali fokus ke latihannya.&lt;br /&gt; Tami sendiri sudah tahu kebiasaan Adi dan kelompoknya, maka ia segera mencari tempat duduk dan menunggu jam istirahat atau sampai latihan usai, baru sesudah itu bisa menemui Adi. setelah satu jam menunggu, akhirnya datang juga jam istirahat. Tami pun mendekati panggung dan menyapa Uwo dan kawan-kawannya. Setelah beberapa waktu berbasa-basi, Tami menarik Adi ke samping panggung dekat jendela.&lt;br /&gt; “Kang, aku ingin bicara, penting. Sekarang!” wajah Tami mendadak serius. Adi mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt; “Ada apa? Kau kan tahu aku tak bisa meninggalkan latihan” &lt;br /&gt; Adi mencoba memberikan pengertian lagi. Sejenak Tami tak menjawab, sampai akhirnya &lt;br /&gt;“Tinggalkan panggung!” tandas Tami disertai dengan suara lirih.&lt;br /&gt; Mendengar itu, Adi sangat terkejut. Dan ia segera menyadari sedang menghadapi sebuah persoalan serius. Betapa tidak, baginya panggung adalah impian sejak duduk di SMA, dan ia sudah bekerja keras membangun mimpi itu, dan kini tanpa alasan jelas ia diminta meninggalkan dunianya. &lt;br /&gt; “Sebentar” ucap Adi dan bergegas mendekati Uwo dan mengajaknya berbicara, dengan berbisik, Adi minta pamit untuk meninggalkan latihan karena alasan yang diberikan Tami. Uwo sendiri merasa kaget dan ia langsung memandang tajam Tami. Tami hanya menunduk mendapatkan tatapan Uwo seperti itu. Uwo mengerti dengan kondisi emosi Adi, ia pun menepuk lengan Adi dan menyuruhnya pergi.&lt;br /&gt;Keduanya pergi meninggalkan studio. Dengan berkendara Vespa, mereka menuju rumah Tami. Sepanjang jalan, keduanya berdiam diri. Walaupun begitu, sangat kentara kecamuk batin yang mendera, terlebih Adi sudah dipepati ratusan Tanya.&lt;br /&gt;Sesampainya, Tami langsung masuk rumah dan duduk di kursi ruang tamu. Adi cepat menyusul dan langsung melempar Tanya.&lt;br /&gt;         “Kenapa? Tinggalkan pentas? Kamu gila” adi mencoba menahan emosinya, ia duduk di kursi depan menghadap Tami. Berkali-kali Adi menanyakan alasan Tami hingga ia punya permintaan berat itu. Hanya menunduk yang bisa dilakukan Tami.&lt;br /&gt;“Aku tak suka” Tami memotong omongan Adi. tatapan keduanya bertemu dan benak Adi semakin kisruh mendengar jawaban yang baginya tak jelas itu.&lt;br /&gt;“Bukannya selama ini kau tidak keberatan dengan aktifitasku?”&lt;br /&gt;“Aku suka melihatmu di atas panggung, tapi…”&lt;br /&gt;“Tapi apa? Begini….” &lt;br /&gt;         Adi kemudian memaparkan kembali langkah panjang yang telah ia ambil, sampai ia dan kawan-kawannya kini punya studio teater sendiri. selain itu kelompoknya sudah dikenal luas di kalangan seniman. Sejatinya, Tami sudah mengetahui segala apa yang diutarakan Adi. namun ia memilih diam dan mendengarkan.&lt;br /&gt;“Apa alasan sebenarnya?” Tanya Adi sambil tangannya menopang dagu.&lt;br /&gt;“Aku tak suka kalau akang terus memakai jas hujan di musim panas”&lt;br /&gt;“kau ada masalah dengan lakon yang aku akan pentaskan?”&lt;br /&gt;“Cobalah kang mengerti”&lt;br /&gt;          Adi bergeming, menatap lekat wajah Tami untuk kemudian menyandarkan diri di kursi dan menerawan ke langit rumah.  Ia mencoba menafsirkan ucapan Tami tadi. Kemudian Adi teringat, bahwa lakon yang akan dipentaskan bulan besok, bercerita tentang manusia-manusia pencari jati diri, dengan perilaku yang bagi kebanyakan orang dianggap bodoh dan tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;“Jadi maksudmu, apa yang sedang aku lakukan itu sebuah ketololan!?” Adi menghela napas panjang.&lt;br /&gt;         “Maaf kang, kita harus realistis. Mumpung kita belum menikah”&lt;br /&gt;Mendengar itu, tiba-tiba Adi tertawa. Tami merasa aneh dengan respon yang diberikan Adi atas ucapannya, meski begitu Tami tidak bertanya. Tawa Adi mereda dan diam. Adi merasakan jalan hidupnya seperti tokoh Vasili Svietlovidoff dalam lakon Nyanyian Angsa. Seorang aktor tua yang hidup sendirian sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;Sambil menahan pedih, ia berdiri dan berjalan menuju pintu.&lt;br /&gt;“Mau dengar apa kata Vasilli pada Ivanitch ketika dihadapkan permasalahan seperti ini?” dengan tekanan suara yang berat, ia mengucapkan dialog Vasilli.&lt;br /&gt;“Kau mengerti? Dia dapat mencintai akting. Tetapi, buat mengawininya tidak! Aku sedang berlakon pada suatu ketika. Ya, aku ingat, aku berperan sebagai badut yang tolol. Setelah berlakon aku merasa mataku jadi terbuka karena melihat apa yang pernah kuanggap pemujaan kepada seni begitu suci, sebenarnya adalah khayalan dan impian kosong belaka. Bahwa aku adalah badut yang tolol dan menjadi permainan yang asing dan sia-sia. &lt;br /&gt;           Akhirnya aku mengerti tentang penonton. Sejak saat itu aku tak percaya lagi pada tepukan tepukan mereka, atau pada bungkusan bunga mereka atau pada ketertarikan mereka. Ya, Nikituskha!orang memuja aku, membeli gambarku, tetapi aku tetap asing bagi mereka. Mereka memburu-buru supaya dapat bertemu dengan aku tetapi melarang adik perempuan atau putrinya untuk kawin denganku, seorang yang hina dina. Tidak! Aku tak yakin lagi kepada mereka. Tak yakin lagi kepada mereka.”&lt;br /&gt;Mendengar itu, mata Tami dirembesi air. Ia terisak dan meminta maaf pada Adi. adi sendiri sudah tahu bahwa hubungan itu tidak akan bisa dilanjutkan. Kedua-duanya sama keras kepala dan keras hati.&lt;br /&gt;“Datanglah di pementasanku nanti” pinta Adi “Aku akan tetap memakai jas hujan ini disegala musim”.&lt;br /&gt;Dengan hati yang lebam, Adi melangkahkan kakinya keluar rumah, menghidupkan Vespanya dan beranjak pergi. Sementara Tami bergeming, ia merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ketukan di pintu mobil mengejutkan Adi. Ia membuka pintu dan didapatinya Uwo dan kawan-kawannya sedang memasukan perkakas pentas. ia pun mendekati dan memberikan bantuan. Setelah selesai, mereka semua masuk mobil dan pergi meninggalkan gedung teater.&lt;br /&gt;-Penonton sudah pulang. Mereka semua sudah tidur dan melupakan si badut tuanya. Tidak seorangpun membutuhkan aku, tak ada yang mencintaiku-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-4497762475469129316?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/4497762475469129316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=4497762475469129316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/4497762475469129316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/4497762475469129316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/02/cerpen-jas-hujan-di-musim-panas.html' title='cerpen Jas Hujan di Musim Panas'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SZrJPdNBFVI/AAAAAAAAAGI/UKs6vO--O1U/s72-c/jas+hujan+di+musim+panas+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-864550174800237633</id><published>2009-01-08T23:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T23:41:48.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahdiduri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lee birkin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>essai teater boneka</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menafsir Angin dan Bebegig&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Lee Birkin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekelompok angin menghembuskan dirinya. Melewati gedung pencakar langit, melewati pasar, melewati kolong rok perempuan cantik, melewati galian kabel, melewati rumah mewah dan akhirnya menjadi amuk atas laku manusia picik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmatnya buang angin&lt;br /&gt;Dalam cerpennya yang berjudul Angin Jalan-jalan (AJJ), Aam Amalia mengajak pembaca mengenal ragam karakter manusia. Cerpen AJJ dibangun dengan diksi yang sederhana dan alur cerita yang mengalir, sehingga pembaca dengan mudah bisa menghirup saripatinya. Adalah angin kecil, angin besar, angin penyakit, angin puyuh dan angin topan yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini. Dengan menempatkan penulis sebagai orang ketiga tunggal, Angin-angin itu dijadikan penjelas perantara akan tema utama dalam cerpen ini, yakni laku manusia. &lt;br /&gt;Lewat peristiwa yang terkadang menggelitik, cerita menggelinding dari sudut pandang yang berbeda dalam menilai manusia. Juga lewat hal-hal yang sering dianggap remeh temeh, AJJ memberikan penyadaran akan relasi antara penguasa, rakyat dan alam. Tengok saja, kala angin berhembus di sekitar, tiap manusia berbeda meresponnya. Saat angin berhembus sepoi mengelus kulit para kuli yang tengah melepas lelah, mereka mensyukurinya dengan berkata //terima kasih Tuhan, angin ini enak sekali//. Coba bandingkan dengan penerimaan atas angin oleh orang kaya dengan berkata //Mam, tolong tutup jendelanya, siang bolong begini kok dingin sekali ya//.&lt;br /&gt;Atas dasar angin (udara) sebagai satu elemen dasar di bumi ini, angin acapkali menjadi bagian dari mitos yang berkembang di masyarakat. Di Cina misalnya dalam legenda Avatar, penguasa anginlah yang selalu dinasbihkan menjadi Avatar. Suku Inca memiliki Huracan selaku dewa angin dan badai, begitupula kebudayaan Yunani kuno yang mengenal adanya empat dewa angin (anak dari Eos dan Astreus) yang memungkinkan adanya perubahan musim. &lt;br /&gt;Manusia tidak bisa hidup tanpa udara, itu gampang kita terima. Tetapi seringkali penerimaan dan perlakuan manusia atas udara yang dihirup, berbalas tikaman belati di punggung; tanpa pikir panjang kita mengeruhkan udara lewat polusi dan berujung pemanasan global.&lt;br /&gt;Hanya lewat peristiwa-peristiwa kecilah, Tuhan memberikan penyadaran hidup kepada hambanya. Saat manusia didera susah buang angin, betapa manusia itu berikhtiar sampai rumah sakit termahal untuk menyembuhkannya. Di dalam kesusahan itu, biasanya kesadaran manusia tumbuh atas segala karuniaNya.  &lt;br /&gt;Bebegig di ujung jurang&lt;br /&gt; Sepatutnyalah kita menempatkan bebegig memiliki fungsi positif, sebagai pengusir hama. Hanya saja kini konotasi bebegig mengalami rekonstruksi imaji ke arah negatif; menjadi hama itu sendiri. Saat ini bebegig menjadi imaji bagi orang yang berotak kopong, tapi berambisi besar ingin memiliki kedudukan atau menjadi penguasa. Kekuatannya dipakai untuk menakuti orang yang dianggap hama bagi tujuan politiknya. Sebuah ironic friction of social value!!!&lt;br /&gt; Hal di atas kian diperparah dengan belum tuntasnya permasalahan sosial dan ekonomi petani. Sawah-sawah digantikan pabrik, harga pupuk yang mahal, harga jual yang rendah, keengganan anak cucu mengolah sawah sampai rendahnya minat generasi muda untuk menjadi ahli pertanian. &lt;br /&gt; Nilai filosofis yang tertanam pada padi berisi kian merunduk dan bebegig sang pengawal Dewi Sri telah dipersetankan oleh gaya hidup dan status sosial. Semua berlomba memperkaya diri di luar sawah, seolah-olah mereka sudah tidak perlu lagi makan nasi. Semua telah menjadi tikus berkostum bebegig!&lt;br /&gt;Musyawarah Bebegig dan Angin.&lt;br /&gt; Pementasan teater oleh Lab Diksatrasia Untirta yang memunculkan ikon bebegig sebagai tubuh pencerita telah merangsang saya membuat catatan ini. Secara teknis, menyangkut dramaturgi minus konsep panggung, saya hanya bisa berkata bahwa saya lebih nyaman duduk menonton pada saat pementasan mahasiswa semester VII B. &lt;br /&gt; Pertemuan bebegig dan angin di ladang(?) itu seperti ingin menyatakan bahwa kreatifitas bisa dihadirkan lewat beragam imaji, suatu keabsahan kebebasan berpikir. Daya juang hidup berkesenian tidak harus satu warna saja.&lt;br /&gt; Pemilihan imaji bebegig dalam lakon berdurasi lebih kurang 40 menit itu menimbulkan segudang pertanyaan yang melahirkan pernyataan. Dunia buruh dan tani merupakan dunia ‘keras’, tertaut kaum tani dan buruh sudah menjadi simbol kaum perlawanan. Tentunya peristiwa geger Cilegon bisa dijadikan contoh, atau PKI dengan Lekranya.&lt;br /&gt; Kehadiran bebegig dalam pentas itu akan menggigit, apabila bebegig berbicara menyuarakan persoalan tanah, tani. Lebih menggigit lagi jika bebegig itu tidak dijadikan etalase untuk mengejar estetika saja. Ia hadir utuh untuk berbicara dan membicarakan dunianya. Memperkuat simbol perlawanan.&lt;br /&gt; Pendapat bahwa “Bebegig ditransformasi menjadi sekelompok orang yang diposisikan dan memosisikan diri sebagai instrumen efektif untuk menghalau segala hal yang dianggap sebagai ‘hama’,” membuat saya miris, betapa tidak, pendapat itu telah menempatkan bebegig yang tadinya sebagai simbol perjuangan rakyat menjadi bernilai negatif seperti yang saya ungkapkan di atas.&lt;br /&gt; Setiap individu berhak untuk memberi nilai (value) atas simbol-simbol yang ada, tetapi di luar itu ada konvensi bersama di masyarakat, atas makna simbol-simbol tertentu yang mau tidak mau dijadikan milik kita juga. Pertanyaanya, apakah kita yang mengikuti masyarakat, atau masyarakat yang mengikuti kita? Viva le Actuer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Penulis, pekerja teater&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-864550174800237633?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/864550174800237633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=864550174800237633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/864550174800237633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/864550174800237633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2009/01/essai-teater-boneka.html' title='essai teater boneka'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-2607951220057458664</id><published>2008-11-18T07:15:00.001-08:00</published><updated>2008-11-18T07:20:03.957-08:00</updated><title type='text'>photoku</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SSLcuq_UARI/AAAAAAAAAFk/myFZtJZVCmQ/s1600-h/mahdi+post+card.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SSLcuq_UARI/AAAAAAAAAFk/myFZtJZVCmQ/s320/mahdi+post+card.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270017208348836114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-2607951220057458664?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/2607951220057458664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=2607951220057458664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/2607951220057458664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/2607951220057458664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/11/photoku.html' title='photoku'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/SSLcuq_UARI/AAAAAAAAAFk/myFZtJZVCmQ/s72-c/mahdi+post+card.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-6321292878447898671</id><published>2008-11-18T07:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T07:05:21.573-08:00</updated><title type='text'>http://rapidshare.com/files/154951821/puisi_cinta_FUTIHAT.rar</title><content type='html'>ingin tahu/baca puisiku klik link ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-6321292878447898671?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/6321292878447898671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=6321292878447898671' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/6321292878447898671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/6321292878447898671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/11/httprapidsharecomfiles154951821puisicin.html' title='http://rapidshare.com/files/154951821/puisi_cinta_FUTIHAT.rar'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-402479926216684105</id><published>2008-10-27T08:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:17:12.697-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bayan sentanu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahdiduri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>cerpen Elf dan Penyeduh Teh Melati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Elf dan Penyeduh Teh Melati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bayan Sentanu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di meja, ia menyodorkan bintang-bintang dalam hamparan kartu tarot terbalik. Dimintanya Adin memilih satu. Adin menyusuri baris kartu itu dengan telunjuk dan terhenti di kartu kedua sebelah kiri. Cukup lama telunjuknya menempel di kartu itu, entah kenapa dia bisa tertegun selama beberapa menit sampai Elf menepuk bahu dan memintanya tenang. Apa maksud Elf berkata seperti itu, Adin sama sekali tak mengerti.&lt;br /&gt; Saat kartu itu dibuka tampak gambar seorang lelaki berdiri di atas bukit curam dengan mata menatap ke awan. ‘ The Fool’ tulisan di kartu itu.&lt;br /&gt; Elf menatap Adin sangat tajam dengan senyum Monalisa di bibirnya. Kemudian ia kocok dan hamparkan lagi kartu itu, memintanya untuk memilih kembali. Kali ini telunjuk Adin mengarah ke tengah. Tapi hasilnya tetap sama; kartu itu juga. Mereka saling tatap, Elf mengacungkan jari telunjuknya ke atas, tanda kocokan diulang satu kali lagi.&lt;br /&gt; Kocokan ketiga hasilnyapun tetap sama. Tetap si bodoh.&lt;br /&gt;                                           ***&lt;br /&gt; “Mas, bagaimana jika aku adalah bintang itu?”. Suara Tami terdengar lirih sambil menunjuk titik-titik cahaya di angkasa dengan telunjuknya.&lt;br /&gt; “Memangnya kenapa?” Tanya Adin seraya menatap mata Tami yang teduh bagai oase di gurun pasir.&lt;br /&gt; “Entahlah mas, belakangan ini aku merasa diliputi perasaan sepi dan dingin” Mendengar itu, entah kenapa hati Adin terasa getir dan membuat bulu kuduknya meremang.&lt;br /&gt; Adin tak menanggapi ucapan itu. Tapi jelas ada tekanan dalam suara Tami. Dan biasanya jika Tami sudah bersikap aneh, Adin memilih tidak meladeninya.&lt;br /&gt; Di langit, empat titik cahaya bintang membentuk layang-layang; bintang pari atau bintang utara kata orang-orang. Penunjuk arah bagi pelaut atau musafir di keluasan gurun sunyi yang penuh fatamorgana.&lt;br /&gt; Tami beranjak masuk rumah lebih dulu. Meninggalkan Adin di kursi malas itu. Meninggalkan bintang dan kesunyian bagi mata dan hatinya.&lt;br /&gt; Percakapan malam itu adalah hari ke 21 di bulan awal Adin menangisi dunia ini. Apa yang mereka bicarakan malam itu telah mengubah sudut pandang mereka sendiri dalam melangkah. Tami menganggap dirinya adalah batu. Hingga dia mengisi hari-hari berikutnya dengan kebisuan, mengurung diri di kamar, tiap hari ia menatap lekat matahari yang tenggelam lewat jendela kamar.&lt;br /&gt; Sedang Adin memandang dirinya adalah arus bawah sungai, yang arusnya lebih deras dari permukaannya. Dan sebagai sungai dia berusaha mengikuti lekuk apapun yang bias mengantarkannya ke samudera. Termasuk lekuk batu itu.&lt;br /&gt; Dalam kamar, menjelang kuning siang jadi rona jingga ia masih di sana;; di bibir jendela. Dan Adin tertegun di pinggir ranjang. Garis waktu yan terbentang di antara mereka diisi dengan keheningan. Mencoba menelisik jauh dalam kegundahan hati batu alam itu.&lt;br /&gt; Adin mendekati dan memeluknya dari belakang. Dia tiup belakang daun telinga Tami dengan pelan, diciuminya leher lenjang yang selama ini telah memabukkannya dalam tiap tegukannya, tapi Tami bergeming.&lt;br /&gt; Perlahan, dia lerai dekapan.&lt;br /&gt; “Sampai kapann kau akan menjadi batu? Sampai tubuhku dipenuhi belatung?” terdiam sejenak, menatap lukisan bunga lotus merah di samping pintu kamar.”Aku kira kau sengaja menguji kesabaranku. Kalau begitu mintalah sama matahari. Atau kau sudah jenuh menjadi titik tuju alir sungai ini?” perlahan, riak emosi Adin menuju gelombang.&lt;br /&gt; Masih bergeming, pipi Tami dirembesi air asin yang bergulir dari matanya yang bening. Adin menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Hening dalam detik-detik berlalu kencang meninggalkan kata-kata dia pada tami.&lt;br /&gt; “Ayolah sayang, sibakkan siluet senja ini dan menjadilah diriku” rajuk Adin dengan mata menatap langit kamar.&lt;br /&gt; Batu adalah batu. Kerasnya adalah diam. Dan Adin bukanlah matahari.&lt;br /&gt; “Baik. Jadilah batu dan membusuklah di neraka!” pintu kamar dihempaskan. Rangkaian kata menjadi sampah.&lt;br /&gt; Ditinggalkannya Tami dalam kamar yang telah ia pilih menjadi pusara. “Kau perhatikan makan dan minumnya.” Hanya itu pesan Adin pada pembantu di rumah. Seminggu ini ia lebih banyak di luar mengejar gerimis dan hujan bagi kerongkongannya. Meniadakan sakit dari batu yang telah melebamkan otak dan hatinya.&lt;br /&gt; Sengaja tak ia kirim ahli jiwa atau orang pintar untuk memulihkan Tami kembali menjadi wanita penyeduh teh melati. Adin biarkan keheningan yang akan mengukir kesadaran batu itu. dan ia tahu itu butuh waktu dan jarak.&lt;br /&gt;                                         ***&lt;br /&gt;Elf. Dia menunjukan hamparan kartu yang menguak gejala jiwa Adin. Jiwa sungai yang meliuk dalam lekuknya, belum pasti memang tapi diharapkannya membawa dia ke lautan. Elf belum menjawab juga saat Adin menanyakan apa arti kemunculan kartu si bodohh itu. raut muka Elf begitu anyep, dengan mata menyapu langit ruang tamu dia member keheningan yang tak bisa dielakkan. Adin ikut terdiam. Menunggu lelaki berambut ikal kelimis itu sendiri yang memecahkan sekat senyap ini.&lt;br /&gt;Cicak bernyanyi di balik jam dinding, jarum jam terus berdetak dalam rotasinya dengan irama yang tetap.&lt;br /&gt;Sedetik setelah nyanyian cicak, elf beranjak dari duduknya dan berdiri di ambang pintu. Sambil matanya terus memerhatikan dedaun bamboo yang bergoyang dihembus angin, dari mulutnya terdengar siulan lagu Kokoronotomo.&lt;br /&gt;Elf mengisyaratkan pada Adin supaya mendekat. Adin beranjak dan berdiri di samping dia. Kebisuan itu tetap menelikung mereka berdua. Tak ada patahan kata yang sanggup mencairkan kebekuan. Dengan telunjuk, Elf berbicara, kali ini ia meminta Adin untuk mengawasi gerak air di permukaan sungai. Nampak sampah-sampah plastik, bangkai ayam, tinja atau minyak yang mengambang silang sengkarut terbawa tetes-tetes air yang berlomba mencapai muara lebih dulu.&lt;br /&gt;Elf membawanya ke bawah rumpun bamboo, jemarinya mengelus sebuah ranting, lalu mematahkannya. Lepas dari batangnya, dia kembali mematahkan ranting itu menjadi dua bagian dan melemparkannya ke sungai.&lt;br /&gt;Telunjuknya mengikuti gerak ranting patah itu sampai hilang dari pelupuk mata. Matanya seperti bertanya apakah Adin mengerti? Adin hanya menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;                                           ***&lt;br /&gt;Aku harus pulang, pikiran itu meranggas dalam kesadaran Adin yang dipenuhi semak belukar kerinduan. Sampai di depan pintu kamar, harum teh melati terendus oleh hidungnya, teh yang biasanya diseduh oleh Tami sebagai bagian dari ritual persetubuhan. Kerinduan dan gelora hasrat pria yang sudah serumah dengan Tami itu menggelegak terbawa dalam senyumnya sendiri. fragmen awal kenal, lingkar cincin di jari manis sampai seks air mancur mengisi kilasan kawat memori Adin.&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi dalam seminggu ini? Apakah Tami sudah kembali menjadi perempuan penyeduh teh? Entah darimana datangnya, pertanyaan-pertanyaan itu menohok sel-sel kelabu di kepala Adin.&lt;br /&gt;Gagang pintu dia tekan ke bawah, untung engsel pintu tak cerewet saat Adin mendorongnya empat puluh lima derajat. Kamar itu terlihat lebih rapid an bersih disbanding ketika ditinggalkannya. Kosmetik tertata rapi di meja rias. Nampak bayangan tubuhnya yang letih terpantul di cermin. Tapi di mana Tami?&lt;br /&gt;Harum melati mengambang, memenuhi ruangan. Dua cangkir teh di meja samping kanan ranjang dan dua…dua? Cangkir? Kenapa dua? Apa dia menungguku dan satu cangkir itu sengaja buatku? Atau? Adin membatin.&lt;br /&gt;“sudah pulang?” suara dari belakang membuat Adin tersentak, sontak ia memutar tubuh dan Nampak Tami sudah berdiri di pintu. Tak mampu ia menjawab, matanya lebih dulu terpana melihat Tami yang begitu anggun. Rambut hitam panjang tergerai, gaun tidur merah muda dan jenjang leher bangau. Kembali Adin mabuk dibuatnya.&lt;br /&gt;“keinginanmu untuk memeluk, simpanlah di lubuk. Teh itu bukan untukmu, aku sedang menunggu seseorang” Kini Adin yang merasa jadi batu mendengar itu. Tami bisa menebak jawaban dari sebuah kerinduan yang belum diungkapkan.&lt;br /&gt;Duduk menghadap cangkir dan mengaduk teh itu dengan telunjuknya yang lentik, Tami begitu tenang, menyejukkan seperti semilir angin pagi hari. Dikulumnya telunjuk yang dipakai mengaduk. Bibir tipisnya yang merah basah Nampak berkilat tersiram cahaya lampu kamar.&lt;br /&gt;“Cepatlah kau keluar. Dia akan segera datang”&lt;br /&gt;                                           ***&lt;br /&gt; “Kau belum juga mengerti?” suara berat Elf menetas setelah dieram kesunyian. Nyalang matanya merenggut Adin dari lamunan. Karena Adin hanya menggelengkan kepala, maka dia menarik napas panjang, lantas mnyunggingkan senyuman patah.&lt;br /&gt; “Kau memang dia” Ucap Elf. Dan ini membuat burung yang terbang di kepala Adin bertambah.&lt;br /&gt; “Siapa?” Pertanyaan yang harusnya Adin sendiri tahu jawabannya.&lt;br /&gt; “Si bodoh” Elf memberekan kartu yang terserak di atas meja dan memasukannya kembali dalam bungkus karton. Tirai malam mulai terkembang saat Elf pami. Hendak meneruskan perjalanan memandu bintang, katanya. Kartu itu ditinggal sebagai cinderamata perkenalan. &lt;br /&gt; “Jangan dibuka sebelum satu minggu lewat” Itulah pesan terakhir dari lelaki yang baru Adin kenal dua hari lalu.&lt;br /&gt; Waktu itu dia datang dengan mengaku sebagai teman lama bapaknya Adin. Di pulau Borneo mereka pernah meneteskan darah dalam satu periuk. Kehadirannya di rumah Adin tak lain untuk menyerahkan kalung giok yang pernah dipesan bapaknya. Ia menyerahkan kalung itu pada Adin karena bapaknya sudah pindah ke rumah baka dua tahun terakhir.&lt;br /&gt;Ia pun diperkenankan mencicipi keramahan rumah Adin, mulai dari guyuran air hangat di sekujur tubuhnya, seduhan capucino dalam gelas dan tentu saja senyuman dari wanita penyeduh teh.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Siapa dia?” perasaan jijik menjalar kencang di tubuh Adin, begitu Tami beranjak ke meja rias, meneruskan pekerjaannya mengusapkan pelembab di kulit tangannya.&lt;br /&gt;“Lelaki pemandu bintang” Rasa bangga itu tercap di bibir Tami. Ternyata dia belum sembuh, piker Adin.&lt;br /&gt;“Apa aku mengenalnya?” Tanya Adin menelisik dalam gemerisik ranting terbakar di hati.&lt;br /&gt;“ Sebelum aku menjadi batu” Kalimat sini mengungkit waktu yang berlalu.&lt;br /&gt;“Apa nama mahluk itu?”&lt;br /&gt;“Elf” sebuah nama hitam menyemburkan abu. Adin sekarat dan mesin pencatat nadi berjalan datar.&lt;br /&gt;                                        ***&lt;br /&gt; jauh sebelum percakapan bintang dan kartu tarot itu, dua orang sedang menulis scenario –kepiting di balik batu—mereka menyusunnya di atas ranjang.&lt;br /&gt;“Kau sudah siap sayang?” Tanya si lelaki dalam rebahnya.&lt;br /&gt;“Iya. Aku adalah perempuan penyeduh teh melati” peluk cium si perempuan menghunjam tubuh si lelaki.&lt;br /&gt;“Dan aku adalah pemandu bintang” Lelaki itu mengimbangi permainan dengan menelusup ke bawah pusar.&lt;br /&gt;Setelah lelah, mereka tertidur dengan seringai taring serigala tersembul di sudut bibir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-402479926216684105?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/402479926216684105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=402479926216684105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/402479926216684105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/402479926216684105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/10/cerpen-elf-dan-penyeduh-teh-melati.html' title='cerpen Elf dan Penyeduh Teh Melati'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-1751011074708760636</id><published>2008-02-28T07:18:00.001-08:00</published><updated>2008-02-28T07:18:58.828-08:00</updated><title type='text'>sastra imperialis</title><content type='html'>Mahdiduri&lt;br /&gt;Penyair dan ketua KSI Banten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian gagasan nasionalisme humanis dari seorang Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini nasionalisme bangsa kita tengah dirongrong oleh kekuatan besar dari Barat yang kita kenal sebagai imperialisme. Kita telah didikte bagaimana bernegara, begitu banyak kebijakan-kebijakan yang seharusnya berpihak pada rakyat telah disulap menjadi keuntungan para pemodal besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kebijakan penanaman modal asing ditetapkan pada tahun 1967, segala sendi kehidupan berbangsa menjadi incaran penjajahan mereka, tak terkecuali kebudayaan. Kita telah diberi fatamorgana budaya yang membuat kita merasa nyaman. Pada sektor budaya ada sebuah skenario besar yang sedang dijalankan lewat agen-agen yang sengaja ditanamkan di negeri ini dengan memakai wajah kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skenarionya, pihak imperialis menyadari bahwa saat ini sangat tidak mungkin untuk memaksakan kehendak dengan jalan menginvasi sebuah negara lewat militerisme (walaupun hal itu sedang dilakukan di wilayah Timur Tengah). Maka, strateginya melalui protectorate atau mandate dan targetnya adalah menghancurkan tatanan politik, sosial, dan moral rakyat, agar memeluk nilai-nilai kaum imperialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada imperialisasi kebudayaan, kaum imperialis berencana menguasai jiwa (de geest) dari bangsa lain, karena dalam kebudayaan terletak jiwa suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, maka berubahlah jiwa bangsa itu. Kaum imperialis hendak melenyapkan kebudayaan suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan kaum imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti menguasai segala-galanya dari bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imperialisme kebudayaan itu adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada indikasi yang sangat kuat bahwa imperialisme budaya dewasa ini sedang tumbuh dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama melalui fiksi-fiksi seksual-liberal karya para penulis terkini yang sebagian berasal dari Komunitas Utan Kayu (KUK). Seks sebagai tema primer karya-karya mereka, terutama karya-karya Ayu Utami, adalah "panser ideologi" yang dipaksakan masuk untuk menumbuhkan imperialisme budaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah mendewakan nilai-nilai estetis sebagai sebuah pencapaian karya adiluhung, tanpa memperhitungkan nasionalisme dan moralitas generasi bangsa ini. Betapa tidak, kebebasan membicarakan seks (gerakan-gerakan seks) yang termaktub dalam karya-karya mereka hanya dimiliki oleh kebudayaan Barat. Sama sekali tidak mencerminkan kepribadian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan lokal kita lebih menghormati hak individu dalam bersenggama dan lebih halus pengungkapannya. Pembicaraan (konsultasi) seks dilakukan pada pihak tertentu saja: suami-istri, dokter, konselor rumah tangga. Tidak diumbar kemana-mana, apalagi dipublikasi secara luas lewat buku dan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai komunitas intelektual, KUK sebenarnya mampu menyerap sumber inspirasi dari kebudayaan lokal, seks sekalipun. Tetapi, lewat karya-karya Ayu Utami, TUK malah menyajikan seks ala Barat yang liberal dalam upaya menarik simpati pemodal besar kaum imperalis. Seperti halnya Dante lewat karyanya, La Divina Comedia, yang terinspirasi Isra Mi'raj nabi Muhammad (berisi penghinaan), kaum imperialis telah menggunakan sastra dan film sebagai propaganda ideologi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam politik kesenian pun mereka jalankan, seperti disinyalir dalam tulisan Viddy A Daery (Gerakan Sastra Anti Neo-Liberalisme) bahwa KUK mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai daerah, sebagai bagian dari "gerakan politik sastra" untuk liberalisasi. Dalam kaitan ini KUK juga berupaya merebut kursi-kursi strategis di bidang sastra, seperti menguasai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wowok Hesti Prabowo dan Maman S Mahayana malah meledek bahwa DKJ sekarang telah menjadi cabang KUK. Ada kabar, DKJ tahun ini membantu dana besar untuk pelaksanaan program rutin KUK, yakni Utan Kayu International Literary Biennale 2008, dengan mengorbankan program Komite Sastra DKJ sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, acara besar Pekan Presiden Penyair (PPP) yang pekan lalu diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu (YPM) di TIM, sama sekali tidak mendapat bantuan DKJ. Menurut ketua YPM Asrizal Nur, panitia PPP bahkan cenderung dipersulit untuk menyewa tempat di TIM. Ketua Masyarakat Sastra Jakarta, Slamet Rahardjo Rais, juga sempat mengeluhkan program Komite Sastra DKJ yang tidak menyentuh komunitas sastra di Jakarta yang seharusnya menjadi sasaran program DKJ. Kenyataannya, Komite Sastra DKJ periode ini memang hanya mengadakan acara rutin kecil-kecilan, yakni Lampion Sastra, yang sesungguhnya cukup dilaksanakan oleh sanggar sastra atau lembaga mahasiswa -- alias 'bukan level' DKJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa pendirian komunitas cabang KUK atau TUK di daerah-daerah juga adalah skenario lain untuk merekrut penganut-penganut baru yang akan patuh pada kehendak sang imperialis dalam mendikte kebutuhan sastra ke depan. Dan, penguasaan posisi stategis dalam lembaga kesenian, disinyalir adalah upaya untuk memperkuat finansial organisasi terkait dengan berkurangnya pasokan dana dari luar (subsidi silang), dengan bukti kasus bantuan dana DKJ untuk biennale KUK di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui novel dan esei-eseinya di X-Magazine, aktifis KUK Ayu Utami pun mengumbar tubuhnya sendiri ke khalayak ramai tanpa rasa malu. Ini adalah keprihatinan terdalam bagi kaum perempuan! Eksploitasi tubuh atas nama eksplorasi estetis telah dijadikan tameng dalam memunculkan sastra gaya rambut belah tengah -- sebuah feminisme sastra liberal yang menyesatkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang rasa penasaran menghinggapi tatkala melihat sepak terjang para perempuan yang tak segan-segan memperagakan gerakan seks mereka sendiri lewat kata. Jadi, apa perbedaan fiksi-fiksi seksual mereka dengan layanan seks premium call 0809? Apakah mereka merasa lebih berderajat karena berada di jalur sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, fiksi seksual tidak hanya ditulis oleh orang-orang KUK, tapi juga penulis di luar KUK, seperti Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat dan Mariana Amirudin, serta Henny Purnamasari. Namun, karya-karya mereka muncul setelah novel Saman karya Ayu Utami mendapat sambutan banyak kalangan dan laris di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan seorang Jane Austen menggali peristiwa lokal sebagai sumber inspirasinya patut digugu dan ditiru, bagaimana dia konsisten mewartakan lewat sastra perihal kehidupan perempuan di masanya yang menjadi korban pergerakan industri. Walaupun banyak dicemooh kalangan kritikus sastra karena tidak peka dengan sejarah besar 'revolusi industri', siapa sangka karya-karyanya abadi, dan bahkan banyak menjadi bahan telaah. Seperti yang diakui oleh Edward W Said, dalam Mansfield Park Jane, tidak buta-buta amat akan kondisi sosial politik yang kental kritik terhadap imperialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kekaryaan Jane mengajarkan pada kita bahwa keabadian karya bukan dilihat dari isu hangat apa yang akan melambungkan popularitas, yang sifatnya sementara. Melainkan keteguhan hati dalam mewartakan apa yang menjadi tuntutan rakyat pada masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Substansi dari peran kaum intelektual adalah membongkar hegemoni! Hampir semua cendekiawan tempo dulu adalah hasil dari didikan penjajah, tetapi mereka berhasil menempatkan diri agar tidak terjerat menjadi 'intelektual bayaran' yang bisa disetir oleh penjajah. Tapi, ternyata kondisi ideal itu tak berlaku lagi di saat sekarang, semua serba pragmatis dan pesimistis. Kesusateraan Indonesia digadaikan hanya karena keinginan sebuah komunitas untuk menjadi jaya, untuk menjadi yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legitimasi semu sastra yang ditawarkan pihak pendukung hegemoni atau sentralisasi sastra hanyalah permen yang bisa menghancurkan gigi kesusasteraan Indonesia. Sudah cukup sastra kita didikte oleh satu komunitas atau lembaga kesenian dalam menentukan kebutuhan pasar sastra Indonesia ke depan. Adalah kebodohan jika kita tahu kondisi (permasalahan) lingkungan kita tapi kita sendiri tidak bergerak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sudah saatnya para sastrawan Indonesia menabuh genderang perang untuk melawan sastra imperialis-liberalis dalam segala bentuknya. Hentikan praktek prostitusi kebudayaan yang akan menelan nasionalisme dan moral kita! Saatnya bergerak dengan apa yang kita bisa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-1751011074708760636?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/1751011074708760636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=1751011074708760636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/1751011074708760636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/1751011074708760636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/02/sastra-imperialis.html' title='sastra imperialis'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-5887242167055856697</id><published>2008-02-28T06:56:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T06:57:05.692-08:00</updated><title type='text'>cerpen</title><content type='html'>Senyum Vagina&lt;br /&gt;Karya Bayan Sentanu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Vagina yang hitam manis. Vagina yang berambut lebat.Vagina yang bisu.Vagina yang lakunya agresif. Vagina yang kalau tertawa nampak gigi putihnya berbaris rapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia meminta Merti mengangakan mulut dan menjulurkan lidah, lantas ia mengeluarkan senter kecil dari saku baju kerjanya dan menyorotkannya ke dalam rongga mulut Merti. Sesudahnya ia tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.&lt;br /&gt; Merti membalas senyuman itu.&lt;br /&gt; “Jadi aku benar-benar pulang hari ini!? Aku akan merindukan rumah sakit ini dan… kamu tentunya.” Mata Merti sembab menitikan air mata. Air hangat itu diusap jemari Vagina sambil menggelengkan kepala. Gadis itu mengeluarkan blok note dan sebatang pena. —Jangan menangis, kita bisa bertemu lagi kok, seperti Dimiter dan Verstephany. Hubungi aku kalau sudah sampai di rumah-- tulisnya.&lt;br /&gt; Bagi Merti, Vagina bukanlah perawat biasa, ia adalah dokter yang mampu melampaui kemampuan para dokter di rumah sakit itu. Ia lebih mujarab tinimbang obat-obatan yang dikonsumsinya. Ia adalah….&lt;br /&gt; Muncul seorang lelaki paruh baya di ruangan itu, ia mendekati ranjang dan mencium kening Merti. Lantas ditatap dan sapanya Vagina dan ia menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Vagina menyambutnya, disertai senyuman itu tentu saja. Lelaki itu bernama Hudas, dan ia adalah suami Merti.&lt;br /&gt; Hari itu adalah hari kepulangan Merti dari rumah sakit setelah tiga bulan dua minggu satu hari terbaring karena stroke yang dideritanya. Ia ditempatkan di paviliun Srikandi, ruang rawat inap kelas satu.&lt;br /&gt; Setelah bercakap-cakap sebentar, Hudas pamit pada mereka berdua untuk menyelesaikan urusan administrasi perawatan Merti. Ditutupnya pintu ruang itu dengan pelan sampai suara pintu terkancing nyaris tak terdengar.&lt;br /&gt; Merti menyapukan tatapannya ke seluruh sudut ruangan itu. Untuk kemudian mengalihkan pandangannya pada Vagina.&lt;br /&gt; “V, kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu?” Seraya menyunggingkan senyum. Vagina mengiyakan dengan anggukan kepala dan ikut tersenyum. Merti mulai mengurut ingatannya.&lt;br /&gt; Merti ingat saat ia siuman, Vagina bermaksud hendak mengganti bantal yang dipakai Merti, dan untuk itu ia harus mengangkat kepala Merti. Saat mengangkat kepala Merti itulah buah dada Vagina mengangkang tepat di wajah Merti. Ketika Merti membuka matanya, yang pertama dilihat ialah payudara gadis itu. Sontak ia kaget.&lt;br /&gt; Tak sanggup berbicara, Merti mengerang lirih tanpa kuasa bergerak. Vagina menyadari Merti sudah siuman, kontan ia mundur. Disodorkannya secarik kertas pada Merti. –Maaf, saya bermaksud mengganti bantal Anda-- tulisnya. Merti membacanya dan ia pun mengedipkan matanya, Vagina mengerti arti kedipan Merti, ia melanjutkan pekerjaannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Saya punya cerita, mau dengar?-- tulisnya di blok note. Merti menganggukan kepala, walau ia tak tahu dengan apa Vagina akan bercerita. Vagina minta Merti bersabar dengan mengangkat kelima jari kanannya, lantas ia masuk kamar mandi. Beberapa menit kemudian pintu toilet terbuka disusul longokan kepala di kusen pintu. Merti agak terkejut saat ia melihat bukan wajah Vagina yang muncul, melainkan wajah berkacamata bulat, berhidung besar, berkumis lebat dan panjang.&lt;br /&gt; Untuk sesaat wajah itu timbul tenggelam di kusen pintu.&lt;br /&gt; “Sedang apa kamu di situ?” tanya Merti dengan sedikit senyum. Tapi wajah itu tetap seperti tadi. Beberapa kali Merti menyebut nama Vagina. Tapi tak diresponnya. Kecemasan merambati benak Merti, ia mulai berpikir macam-macam.&lt;br /&gt; “Kamu jangan main-main, saya takut.”&lt;br /&gt; Sesudah ucapan Merti tadi wajah itu tak nongol lagi. Beberapa saat Merti terdiam dengan perasaan was-was, untuk kemudian dari bawah kusen pintu yang sama muncul kaki perempuan. Awalnya telapak kaki, betis, dan akhirnya paha, di pergelangan kakinya terpasang kerincingan.&lt;br /&gt; Merti melongo disuguhkan hal seperti itu. Telapak kaki itu berputar ke kanan, pelan. Berputar ke kiri, pelan juga untuk kemudian tak bergerak. Perlahan, kaki itu bergetar dan kerincingan mulai mengeluarkan bunyi. Merti semakin tak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Rasa takut, penasaran, berkumpul menjadi satu. Ada keinginan Merti mendekati kusen pintu itu dan mencari tahu, tapi kondisi badannya yang masih lemah menjadi alasan mengurungkan niatnya.&lt;br /&gt; Seperti wajah tadi, kaki itu pun perlahan menarik diri ke balik pintu. Merti memanggil kembali Vagina, tapi tetap tak ada tanggapan.&lt;br /&gt; “Kalau kamu tidak kemari, aku mau tidur.” Tukas Merti sedikit mengancam. Walau begitu, ucapannya tak lain hanya sekedar untuk mengenyahkan rasa takutnya. Dia memindahkan pandangannya ke eternit kamar yang putih.&lt;br /&gt; Di sana, wajah Hani, anak perempuannya memabyang. Dua puluh dua tahun ia membesarkan gadis itu. Belum lengkap ia bahagia sebagai seorang Ibu dengan sebuah pernikahan anaknya. Hani sudah divonis mati dengan lebam disekujur tubuhnya. Hasi dari sebuah demonstrasi.&lt;br /&gt; Sejak kematian Hani enam bulan lalu itulah. Merti sudah dirawat di rumah sakit dua kali dengan sebab yang sama. Stroke. Tubuh perempuan itu menjadi begitu lemah jika dihadapkan dengan kenyataan pahit yang telah menimpanya. Seperti sekarang ini, ia tak kuasa mengendalikan air matanya dengan hanya membayangkan wajah Hani.&lt;br /&gt; Rasa takut yang tadi sempat terusir oleh bayang wajah Hani, kini menyeruap kembali manakala dari dalam toilet, sebuah ketukan pintu merambat menjadi tetabuhan. Diiringi separuh badan menyembul dari kusen tadi. Bertelanjang dada, sementara bawahannya memakai kain putih berbelahan tengah.&lt;br /&gt; Di sana, pemanpakan sosok itu kian jelas. Dengan wajah yang tadi, sosok berambut itu meliuk-liuk, menari mengikuti irama tetabuhan. Kulit sawo matangnya nampak jelas diterangi lampu neon. Lidahnya menjulur sedikit dijepit bibir tipisnya. Yang membuat Merti mendelikkan mata adalah payudara sebesar buah pir sosok itu dihiasi sebentuk mata, bukan putting.&lt;br /&gt; Tetabuhan dan suara kerincingan seirama dalam satu ketukan nada.&lt;br /&gt; Kian lama gerakan tubuh sosok itu lebih menyerupai gerakan erotis dari pada sebuah tarian. Pahanya disandarkan ke tembok, dengan telapak tangan menempel ke kayu kusen, tubuhnya naik turun. Gerakannya seperti belut berenang. Di ranjang, Merti mengamati postur separuh tubuh itu. Rambut sebahu, bibir tipis, kulit sawo matang, dan buah dada yang mungil. Ia tersenyum. &lt;br /&gt; Cukup lama adegan itu berlangsung, untuk kemudian separuh tubuh itu pun masuk kembali ke dalam toilet.&lt;br /&gt; Merti yang mulai yakin bahwa sosok itu adalah Vagina dari postur tubuhnya, tidak lagi merasa takut. Ia malah tertarik untuk mengikuti alur, dan ia mulai menerka-nerka cerita yang dimaksudkan Vagina sebelumnya. Kehadiran wajah bertopeng paman Doli, kaki dengan kerincingan, dan sekarang separuh tubuh itu dengan mata di payudara. Kini yang dilakukan Merti adalah menunggu potongan fuzzle berikutnya dari Vagina.&lt;br /&gt; Masih dengan kostum itu, Vagina muncul dari dalam toilet, berdiri di depan pintu, untuk kemudian merentangkan tangan seperti sayap, dan telapak kaki disilangkan, dijinjit. Vagina berputar dan melakukan gerakan burung terbang mendekati Merti.&lt;br /&gt; “Kau konyol, V,” sela Merti. Tapi Vagina terus bergerak, kini ia melakukan gerakan looking around dengan meletakkan tangan kanannya menyamping di pelipis matanya, silih berganti kanan dan kiri. Apa yang kau lihat, V?—batin Merti memaknai gerakan Vagina.&lt;br /&gt; Vagina berdiri di samping Merti. Ia menyapukan telapak tangan kanannya ke wajah Merti, tapi tidak menyentuh, hanya mengangkang. Mata Merti mengikuti gerak jemari seperti kibasan ekor ikan itu. Selesai dengannya Vagina beranjak ke depan ranjang. Tetap dengan gerakan gemulai. Di sana, ia memeragakan seseorang yang hendak memanah. Tali busur itu ditarik dengan anak panahnya dari atas, busur dan talinya meregang lantas di arahkan ke dada Merti, dan…&lt;br /&gt; Lampu dalam paviliun itu padam dua puluh menit kemudian, terlihat Vagina keluar darinya dengan seulas senyum.&lt;br /&gt; Cahaya mentari merembes ke balik gorden dan menerpa sebagian wajah Merti. Ia pun terbangun, mengerjap-ngerjapkan matanya. Tak ada orang di sampingnya, Vagina yang selama ini selalu hadir sebelum ia bangun tidur, tak nampak pagi itu. Hudas sang suami tak menginap menemaninya karena ia sedang ada tugas penting dari kantor sejak sehari yang lalu. Semua keperluan Merti dipercayakan pada Vagina. Dokter Apollo datang hanya pada jam pengecekan saja. dan pagi itu adalah pagi ke 82 Merti berada di rumah sakit itu.&lt;br /&gt; Menatap ke langit-langit ruangan, Merti menerawang mengingat peristiwa tadi malam, ia yakin itu bukan mimpi. Adegan terakhir yang diberikan Vagina adalah ia memainkan tubuhnya yang dihiasi kumis tebal paman Doli. Dimonyongkan, dilebarkan, dan gerakan lain yang bagi Merti sangat jelek dan membuat bergidik.&lt;br /&gt; Vagina. Mulutnya lentur, kulitnya agak gelap, berkumis lebat, dan bergigi putih. Dari deskripsi itu Merti teringat sesuatu, mendadak ia tersenyum.&lt;br /&gt; “Vagina bergigi?” Senyumnya mengembang menjadi tawa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Buku itu untukmu—tulis Vagina, saat merti hendak mengembalikan buku dewi Balbao yang dipinjamkan Vagina sebulan yang lalu. Buku tentang dewi penari perut: Balbo. Sosok serupa perempuan yang bermulut bibir Vagina dan bermata di payudara. Dari mulutnya itu lelucon-lelucon keluar dan menghibur Dimiter kembali pulih dan meneruskan pencariannya. Hal ini mengundang rasa simpati dewa-dewa untuk membantu Dimiter.&lt;br /&gt; Merti tersenyum lantas memeluk Vagina. Tak lama Hudas masuk ruangan dan ia berkata bahwa semua urusan administrasi sudah selesai. Ia pun membereskan barang-barang Merti. Mereka bertiga keluar paviliun, berjalan di lorong menuju pintu keluar rumah sakit. &lt;br /&gt; “Pah, tahu tidak, sebenarnya aku sembuh bukan karena obat lho, pah. Tapi karena Vagina.”&lt;br /&gt; “Oh ya!?” Hudas dengan nada datar menanggapi ucapan istrinya.&lt;br /&gt; “Papa gak tahu sih, nanti aku ceritakan di rumah,” ucap Merti sambil melirik Vagina. Ia membalas dengan senyuman, mengerti maksud Merti.&lt;br /&gt; Di tengah perjalanan, Vagina pamit, alasannya hendak ke ruangan dokter Apollo. Setelah berpelukan, mereka pun berpisah.&lt;br /&gt; Barang-barang sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil, Merti sudah duduk di kursi depan, penuh senyum. Mendadak Hudas minta ijin hendak kembali ke paviliun. Ada yang tertinggal alasannya. Ia pu bergegas pergi ke sana.&lt;br /&gt; Tapi sebenarnya Hudas tidaklah menuju ruang rawat inap itu, ia berbelok ke arah berlawanan, ke ruangan V. Meliahani: Psikolog.&lt;br /&gt; “Terima kasih atas bantuannya, dok.” Hudas menyodorkan telapak tangan kanannya. &lt;br /&gt; “Sama-sama,” balas Vagina menyambut jabatan tangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Budaya Tangerang, Oktober 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-5887242167055856697?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/5887242167055856697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=5887242167055856697' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/5887242167055856697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/5887242167055856697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/02/cerpen.html' title='cerpen'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-2918616447872145843</id><published>2008-02-28T06:33:00.000-08:00</published><updated>2009-03-20T08:02:07.265-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahdiduri'/><title type='text'>puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gaza I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gaza&lt;br /&gt;Semua berlari, berairmata&lt;br /&gt;bertanya akankah gigil pagi&lt;br /&gt;masih bisa mengeletarkan &lt;br /&gt;tulang-tulang keluarganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Tanya&lt;br /&gt;jawab kemudian &lt;br /&gt;sedetik dari tanya &lt;br /&gt;sebuah peluru &lt;br /&gt;berpusara di dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segala terbaring bergelimpang&lt;br /&gt;segala mencium tanah nan rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya tubuh tegak&lt;br /&gt;lelaki dari rumah jagal &lt;br /&gt;yang bermata kesumba &lt;br /&gt;menyeringai serigala &lt;br /&gt;sesudah lapar dikenyangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gaza II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Gaza, meski&lt;br /&gt;pita-pita hitam dari negeri jauh &lt;br /&gt;tersulam menjadi satu bendera putih&lt;br /&gt;tak mampu menghentikan jalannya&lt;br /&gt;pawai dua ratus bendera kuning pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gaza III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersisa dari &lt;br /&gt;runtuhan peperangan&lt;br /&gt;Hanya gerak lemah jemari anak perempuan&lt;br /&gt;yang mengetuk bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kahwa dan Cicak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelas kahwa manis jambu &lt;br /&gt;dan bunyi cicak pengganti&lt;br /&gt;detak jam yang rusak&lt;br /&gt;Menautkan kawat dari masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang bermusim di mata kecil&lt;br /&gt;gadis Mintuna kemarin senja&lt;br /&gt;Sesar perlahan&lt;br /&gt;Bermusim cahaya di pagi &lt;br /&gt;yang paling Juni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergaris nol derajat lintang barat&lt;br /&gt;kita saling bertanya lewat tatap&lt;br /&gt;Bermatahari di belakang tubuh&lt;br /&gt;kita berdua menjadi cium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segelas kahwa tabur&lt;br /&gt;di kotak imaji &lt;br /&gt;seekor cicak &lt;br /&gt;bertepuk tangan&lt;br /&gt;jatuh dan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Episode Laron Sang Pemburu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun namamu diburu lelaki berkelamin ungu yang&lt;br /&gt;ingin kembali menjejakkan kakinya di tanah gambut,”akan&lt;br /&gt;kujadikan kau bayang masturbasiku” solilokui ke enam puluh &lt;br /&gt;dengan Revolver membidik kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai warisan kebencian lelaki itu, aku memburu&lt;br /&gt;fosil namamu di setiap kubur bertabur mawar putih dan &lt;br /&gt;bernisan ranting muda yang patah. Yang kudapat;&lt;br /&gt;sepotong ati ayam ditelan musang bulan. Namamu&lt;br /&gt;terbungkus daun sirih dan kain merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin berganti arah, dendam tiada lagi emmbuncah. &lt;br /&gt;Saat pesta, cermin buram oleh embun malam.&lt;br /&gt;Menenggak namamu yang kental dalam gelas kristal,&lt;br /&gt;membawaku ke lautan yang tak habis ditenggak&lt;br /&gt;sekawanan raksasa lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelas tergeletak tiada berkerak. Tapi kerongkonganku&lt;br /&gt;memanjang yang membuat aliran namamu kian jauh&lt;br /&gt;dari penuhnya ceruk kepuasan seorang pemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidur ayam, kudengar namamu bernyanyi saat&lt;br /&gt;luruh dalam gemuruh darah yang memusar di jantung.&lt;br /&gt;Lantas menjulurkan lidah, menjilat moncong&lt;br /&gt;senapanku. “yang kau dapat hanya banyang” gemerisik&lt;br /&gt;dedaun sambil menasbih namamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembunuh Mencinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu puisi itu semesra&lt;br /&gt;Hembusan angin mulut di daun telinga&lt;br /&gt;Sebelum bercinta&lt;br /&gt;Biar garam mendidihkan luka&lt;br /&gt;Pun meledak air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu lagi puisi itu membunuh pelan-pelan&lt;br /&gt;Nyawa dilarang lekas melayang&lt;br /&gt;Seperti ayam disembelih dengan silet berkarat&lt;br /&gt;Biar ayat-ayat Tuhan jadi pakaian&lt;br /&gt;Pun tawa bayi di pahang siang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begitu,&lt;br /&gt;Pinjamkan mata pena&lt;br /&gt;Agar bisa aku mencacah kata-kata&lt;br /&gt;Dan menidurkanmu dalam puisi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Doa Seusai Perang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seusai perang&lt;br /&gt;Bendera itu tetap mandeg&lt;br /&gt;Di tengah tiang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintaku, lesatkan ruhku&lt;br /&gt;Dengan sebelas tembakan ke udara&lt;br /&gt;Agar cepat sampai padamu;&lt;br /&gt;Kawan lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Du&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;a musim di sungai peranakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua musim dua cerita di hulu sungai&lt;br /&gt;Diantara mekar-kuncup si putri malu&lt;br /&gt; Sekian lama alpa. Kecantikan Cai Sadana&lt;br /&gt; Kembali mengambang di tengah arus tahun kuda&lt;br /&gt; Bibir tipisnya bergincu merah jambu dengan&lt;br /&gt; Pupur rata bedak cempaka di pipi&lt;br /&gt;Teratai terapung di liuk tubuh sungai, mengundang dewa-dewa&lt;br /&gt;Di tujuh penjuru angin dalam sebuah pesta. Peh Cun.&lt;br /&gt; Killin bermain bola emas di ujung tiang&lt;br /&gt; Irama rancak memadu gerak pencak&lt;br /&gt;Sebilah pedang lentur berkilat&lt;br /&gt; Membelai angin, mengasah mata para undangan&lt;br /&gt;Pinggir sungai ditumbuhi umbul-umbul merah&lt;br /&gt;Lampion merah menenggelamkan keruhnya sungai&lt;br /&gt; Liong meliuk melilit wayang cokek&lt;br /&gt; Gempal pinggulnya berlenggok menarik paksa berahi&lt;br /&gt; Lelaki Benteng di pinggiran kota&lt;br /&gt; Bergerombol, gabus berebut masuk bubu&lt;br /&gt;Sepanjang istirah, tersuguh arak putih di meja arwah&lt;br /&gt;Hormat langit, hormat bumi, hormat leluhur, hormat keluarga&lt;br /&gt; Kole-kole dikayuh wareng jantan&lt;br /&gt; Tantang lawan menabuh tambur&lt;br /&gt;Semua berkokok merebut pita garis akhir&lt;br /&gt;Sampai tersandung beduk asar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu musim hanyut sudah ke muara&lt;br /&gt;Pelaminan ditinggal penganti masuk goa pertapa&lt;br /&gt; Singa merah digantung di tembok&lt;br /&gt; Naga hijau terlipat dalam peti&lt;br /&gt; Teh Hian, Kromong menghuni museum purbakala&lt;br /&gt; Terpercik luntur merah kain pesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu musim lagi akan tertuang di botol-botol bir&lt;br /&gt;Diiringi musik hidup dari wanita yang menyelipkan sebatang rokok di bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, April-Mei 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;P&lt;strong&gt;uisi yang Meragu&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;:Inggit Putria Marga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memilih bunga hujan&lt;br /&gt;karena itu obat  tetes mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah terlalu lama mataku&lt;br /&gt;dirajam abu rokok&lt;br /&gt;musang  berparas sebatih&lt;br /&gt;yang bercokol  di bawah ketiakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku meragu batu karena cinta badaimu&lt;br /&gt;datang terlalu pagi. Sebelum  hening selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menjauh dari sang penakluk&lt;br /&gt;agar bunga yang pasti ada tak runtuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk puisi yang meragu cinta dari sebilah hujan&lt;br /&gt;yang menggedor pintu tengah malam&lt;br /&gt;dan memaksaku menyalakan lampu&lt;br /&gt;yang kumau – menjadilah pusaraku –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangerang, Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari Lapar Menuju Syair&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tubuh halimunmu. Hantar.&lt;br /&gt;Kamu jadi embun. Harap.&lt;br /&gt;Jemari merimbun daun. Aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu terbakar. Langu.&lt;br /&gt;Bulan hidup. Sejak.&lt;br /&gt;Bulan mati. Sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujamah-jamah lapar&lt;br /&gt;Kurindu-rindu syair&lt;br /&gt;Laparmukah dalam laku syairku!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Ramadhan 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anak Peluru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluru yang tersemat di dada Ibu&lt;br /&gt;Pecahan Mortir di kepala Bapak&lt;br /&gt;Serpihan daging kakak&lt;br /&gt;; kamu merindu perjamuan satu nisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk Ibu, kau hadiahkan bunga api&lt;br /&gt;dari korek yang kau sulut di depan tank baja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangerang, Oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jakarta Sebuah Arena&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. Adalah ring tinju telapak tangan bulat terkepal&lt;br /&gt;Memeprebutkan sabuk emas dari sebuah pertandingan&lt;br /&gt;Yang tak pernah berakhir&lt;br /&gt;Di sinilah kejantanan mata, telinga dan gerak gesit&lt;br /&gt;Tangan dan kaki dipertaruhkan&lt;br /&gt;Ditinju atau meninju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata lebam, itu biasa&lt;br /&gt;Kucuran darah. Itu lumrah.&lt;br /&gt;Toh kita sudah terantuk gelas-gelas kaca&lt;br /&gt;Yang dipakai bersulang para pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Januari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ompol I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat matanya, cinta datang tanpa permisi&lt;br /&gt;Di kondominium hati yang baru dibangun&lt;br /&gt;Di atas runtuhan bekas rumah tak berdenah di pinggir sungai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai maling, ia mengendap-bersijingkat&lt;br /&gt;Di ruang tamu yang baru tadi sore kusapu dari pecahan&lt;br /&gt;Luka wanita yang merobek puisi sendok dan garpu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu itu pakai cubluk, membawa ransel&lt;br /&gt;Penuh jamu tolak angin dan popok bayi&lt;br /&gt;Bermerk – Love undereksplosure –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat kupergoki, ia sudah dikamar mandi&lt;br /&gt;Menjadi patung Selamat Datang Jakarta&lt;br /&gt;Dan ia bergumam – aku siap menjadi ompolmu –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ompol II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komuni pertama di bilik pastur&lt;br /&gt;Berlanjut di bahuku, walau kau tahu&lt;br /&gt;Aku bukanlah bejana&lt;br /&gt;Pembaptisanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kita berkaca, memang.&lt;br /&gt;Mengharap tangan misterius Tuhan&lt;br /&gt;Menyatukan arus massa dan listrik&lt;br /&gt;Di alir takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, sungguh.&lt;br /&gt;Aku bermimpi buang air besar&lt;br /&gt;Di sungai Cisadane&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setidaknya&lt;br /&gt;Terima kasih kau sudah menjadi ompolku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Betina Kopong&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang lenyap dalam air teh;&lt;br /&gt;Rasa bibirmu. Manis gula rendah kalori&lt;br /&gt;Digerus perih bibir retak karena panas dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang sneyap dalam bibirmu;&lt;br /&gt;Cantik itu. Lingkar cahaya lampu taman&lt;br /&gt;Ditelan lolongan ajing liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu, gula luka tumpah saat waktu urung&lt;br /&gt;Aduk dalam teh melati dan &lt;br /&gt;Kau menato lukamu di bahuku.&lt;br /&gt;- sosok lelaki bercinta dengan kepinding&lt;br /&gt;di bawah kasur kapuk lain gubug – &lt;br /&gt;termotif lewat ujung jarum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu yang gerimis,&lt;br /&gt;menderas, mengurung tanganku&lt;br /&gt;menukar sayapmu sewarna pucuk teh&lt;br /&gt;yang kuyup oleh hujan&lt;br /&gt;dengan baju tidur yang kuselipkan&lt;br /&gt;batu mulia di sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik memang kujual saja bejana&lt;br /&gt;Penampung bococran tangis betina&lt;br /&gt;Yang kepalanya kopong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, September 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lelaki Pemintal Benang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;: Husnul Khuluqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesayup bisikan cinta dari sang kekasih&lt;br /&gt;begitulah kamu lelaki pemintal benang&lt;br /&gt;meneriaki kota yang karam di reruntuhan jam kerja&lt;br /&gt;lewat corong puisi saat senja dibukukan para penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi,&lt;br /&gt;sekeras jeritan orang dicambuk;&lt;br /&gt;begitu juga kamu lelaki pembisik&lt;br /&gt;membisiki mayat-mayat hati operator mesin bangun dari kubur&lt;br /&gt;dengan puisi saat kepalan tangan meninju langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu lelaki,&lt;br /&gt;teruslah berbisik dan berteriak&lt;br /&gt;tapi jangan lupa berteriak&lt;br /&gt;karena kota ini akan padam&lt;br /&gt;tanpa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelepah Pisang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;: Rukmi Wisnu Wardhani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi betinamu sungguh buas&lt;br /&gt;saat bulan tenggelam* kau kutuk&lt;br /&gt;para pejantan menjadi banci tikus&lt;br /&gt;yang bisa kau injak kemaluannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tubuh penuh debu dari pertempuran perempuan Indian&lt;br /&gt;yang tak menginginkan surga kiranya&lt;br /&gt;menyebabkan lengkung alismu membujur kubur&lt;br /&gt;saat cinta menggantung di awan dalam sebuah kondom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku membaca sastra senja;&lt;br /&gt;di putting hurufmu yang telah menghitam&lt;br /&gt;sudah bukan air susu lagi yang keluar melainkan nanah&lt;br /&gt;dari borok percintaanmu dengan lelaki pemegang borgol&lt;br /&gt;yang selalu mengawasimu sampai ke toilet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan terlalu banyak bercinta dengan piranha&lt;br /&gt;di sini masih ada lelaki gerimis yang siap memayungimu dengan&lt;br /&gt;pelepah daun pisang kala derasnya hujan mendera antologi hidupmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* judul puisi Rukmi WW&lt;br /&gt;Tangerang, Agustus 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Si Botol dan Si Sepi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Botol Kecil berisi madu&lt;br /&gt;Botol besar berisi candu&lt;br /&gt;Dikocok sepi&lt;br /&gt;Diteguk isi&lt;br /&gt;Airnya tumpah&lt;br /&gt;Botol tak pecah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si botol tergeletak di atas pusar sepi&lt;br /&gt;Tubuh wanita gemuk tengah baya&lt;br /&gt;Usai dikulum mulut usia renta&lt;br /&gt;Dan dihujamkan ke goa di tepi pantai&lt;br /&gt;Purba, ladang garam kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. acapkali si botol tertegun di depan cermin&lt;br /&gt;menatap label cinta yang melingkari tubuhnya&lt;br /&gt;berupa garis-garis putus tak berujung&lt;br /&gt;atau wajah mamak yang terbuang beserta krop&lt;br /&gt;hidupnya ketika diisi pertama kali oleh candu kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya, ya. Botol becil berisi madu&lt;br /&gt;botol besar berisi candu. Akh mamak.”&lt;br /&gt;Gerutu memanggil rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Lubang sepi adalah jawaban teka-teki si botol&lt;br /&gt;Akan kuis kekosongan kantong di metropolitan&lt;br /&gt;Kedatangan sepi melancarkan sendawa dunia si botol&lt;br /&gt;Kualitas isi si botol mengobati penyakit gatal si sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kocoklah sepiku,&lt;br /&gt;akan kureguk isi kantongku.”&lt;br /&gt;Desah membuat basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Keluar pintu pagi, si botol menyapa awan&lt;br /&gt;Dengan benang kusut dari rajutan tubuh si lubang sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh, biar air tumpah,&lt;br /&gt;botol tak pecah!”&lt;br /&gt;Teriak penuh kerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia meneguk kopi hitam &lt;br /&gt;Tanpa pernah tahu ada kucing hitam&lt;br /&gt;Menjulurkan lidah meminta bagian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Botol kecil berisi madu&lt;br /&gt;Botol besar berisi candu&lt;br /&gt;Dikocok sepi&lt;br /&gt;Diteguk isi&lt;br /&gt;Airnya tumpah&lt;br /&gt;Botol tak pecah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, &lt;br /&gt;Kucing hitam&lt;br /&gt;Tak mau diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Desember 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ATM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ayu Tapi Mambu&lt;br /&gt;: AYU Utami&lt;br /&gt; Dinar RahAYU&lt;br /&gt;Djenar Maesa AYU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis muda bertanya pada&lt;br /&gt;Seekor bandot tua di tengah kota&lt;br /&gt;Tentang siapa pria!?&lt;br /&gt;Bandot tua tak menjawab hanya&lt;br /&gt;Menunggingkan pantatnya&lt;br /&gt;Gadis muda menyimpulkan pria adalah&lt;br /&gt;Binatang besar, bodoh dan tak bertulang belakang*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada monyet bermain SMS&lt;br /&gt;Menawarkan KY Jeli ke toko-toko buku&lt;br /&gt;Tanpa malu ia peragakan cara pemakaian&lt;br /&gt;Di tubuh Ibunya yang lugu&lt;br /&gt;Sambil tersipu Ibunya bilang&lt;br /&gt;“Anakku memang monyet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Jonggi bedanya kimia dengan sastra&lt;br /&gt;Adalah dari gaya rambut&lt;br /&gt;Kimia bergaya rambut belah samping&lt;br /&gt;Sastra bergaya rambut belah tengah&lt;br /&gt;Dan ia suka sastra rambut belah tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga dara memagut paksa benang merah dari rahim fiksi&lt;br /&gt;Maka berdarahlah selaput bunda sastra&lt;br /&gt;Yang menjadikan pintalan mereka&lt;br /&gt;Tak mampu menyelimuti bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua ayu&lt;br /&gt;Tapi Mambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Jan-Feb 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Firdaus Oil untuk Tuan Bush&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Bush nonton TV&lt;br /&gt;Di TV ada iklan&lt;br /&gt;Iklan minyak kumis&lt;br /&gt;Minyak kumis seribu satu malam&lt;br /&gt;Satu malam tuan Bush diejek istri&lt;br /&gt;Istri ingin tuan Bush berkumis&lt;br /&gt;Berkumis tipis pertanda jantan&lt;br /&gt;Kejantanan tuan Bush diludahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak kumispun dibeli satu&lt;br /&gt;Satu olesan menjelang pagi&lt;br /&gt;Paginya tuan Bush sudah berkumis tipis&lt;br /&gt;Kumis tipis tak cukup untuk tuan Bush&lt;br /&gt;Tuan Bush beli dua&lt;br /&gt;Dua tak cukup tuan Bush beli lima&lt;br /&gt;Lima tak puas tuan Bush beli semua&lt;br /&gt;Semua dibeli sampai pabriknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Bush bersenang hati&lt;br /&gt;Hati istrinya ingin dikejutkan&lt;br /&gt;Terkejut istrina setengah mati&lt;br /&gt;Setengah mati istrinya tak mengenali wajah tuan Bush&lt;br /&gt;Tuan Bush melihat dirinya ke cermin&lt;br /&gt;Cermin berkata sebenarnya&lt;br /&gt;Sebenarnya wajah tuan Bush ditutupi kumis&lt;br /&gt;Kumis seribu satu malam&lt;br /&gt;Satu malam tuan Bush tertawa nonton TV&lt;br /&gt;Di TV ada berita &lt;br /&gt;Berita pabrik minyak kumis yang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, April 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bapak Amuk &lt;br /&gt;Ibu &lt;em&gt;yang paling mawar&lt;/em&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo nak, berteriaklah&lt;br /&gt;kalahkan gemuruh kota ini dengan suaramu!”&lt;br /&gt; begitulah bapak mengajarkanku&lt;br /&gt; menginjak tanah menatap cakrawala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; tidak ada kata interupsi di rumah ini&lt;br /&gt; tulangku didaur ulang menjadi besi&lt;br /&gt; dagingku digiling menjadi bubur baja&lt;br /&gt;kulitku disasapi sinaran matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo nak, kita tanami bunga&lt;br /&gt;tanah sisa di antara rangka baja kota ini.”&lt;br /&gt; begitu ibu mengajakku menyalami pagi&lt;br /&gt; sehabis bertengkar dengan bapak tadi malam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; dia, yang paling mawar*&lt;br /&gt; menyelam palung kehidupan pewaris kedalaman jiwa&lt;br /&gt; dengan jari telunjuk menunjuk&lt;br /&gt; negeri padi di seberang industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada akhirnya aku harus bersendiri&lt;br /&gt;seratus hari dari bapak amuk&lt;br /&gt;seratus tombak dari ibu yang paling mawar&lt;br /&gt;dan menjadikan rangka baja sebagai orang tua angkatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*kutipan puisi Solitude; SCB&lt;br /&gt;Tangerang, September 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bantal si Urban&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siang sudah bolong, hentikan percintaanmu dengan bantal!”&lt;br /&gt; teriak Ibu sambil menjewer kupingnya.&lt;br /&gt; Tapi bagaimana ia hentikan semua ini sementara&lt;br /&gt; Kota ini dirancang dan dibangun di atas bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin punya bantal bulu angsa bu, jadi biarkan aku bercinta.”&lt;br /&gt; Ibunya terdiam, lantas menangis dan kembali menceritakan&lt;br /&gt; Tentang bapak yang terbunuh gara-gara memburu sebuah bantal&lt;br /&gt; Peninggalan kakek yang dicuri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kau mencari bantal bulu angsa, ini bukan musim kawinnya.”&lt;br /&gt; Elusan tangan dirambutnya tidaklah menyurutkan gelombang pasang&lt;br /&gt; Cintanya. Melamar kota ini dengan angsa petelur emas dari istana awan &lt;br /&gt; Adalah janjinya. Janji seorang pejuang bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kota membawa bantal di atas kepala, ada yang kejatuhan bulan adapula merpati yang hinggap di bantal kepala mereka dan mematukinya. Ada bantal dari busa, kapas dan bulu angsa yang ia cari. Sementara dirinya membawa bantal kapuk randu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kota ia dapatkan realitas dan melankolis. Bantaran sungai, jajaran rumah kardus di samping rel kereta menjadi tempat pembuangan akhir dari bantal apek kaum urban, yang sering kali menyeret bantal penghuninya jauh ke pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hujan ia cari tetes air yang membawa kabar letak tangga negeri awan, perahu kertaspun dihanyutkan ke cemarnya sungai.&lt;br /&gt;Seribu burung kertas ia terbangkan ke keluasan cakrawala, yang berhias cerobong asap, memaksa dirinya menjadi budak gurita dalam samudera peluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual panjang mengelilingi unggun kota, tak pernah memberinya ekstase kaum priyayi, hanyalah sembab mata kaum darwis tercap dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Kemudia ia bertemu lelaki gerimis yang kerjanya mengguyur kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Atas apa kau datang kesini?”&lt;br /&gt;lelaki muda berjubah merah muda mempersilahkannya tidur terlentang menghadap kiblat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bantal.”&lt;br /&gt;Sambil memegang erat bantal kusutnya, ia merasa lelah. Dingin. Matanya sudahlah lima watt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau? Sudah kau dapatkan?”&lt;br /&gt; lelaki itu memandikan tubuh ia. Pepat daki. Mampat jerawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bantal. Tiada bantal seenak bantal sendiri.”&lt;br /&gt; Terpejam. Ia memerdekakan diri.&lt;br /&gt;Lelaki itu menaruh bantal kapuk randu dikepala ia, menyangga tangga negeri awan dalam kepala yang telah memisahkan Ibu darinya. Kemudian ia menutup tubuh ia dengan jaket tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidurnya, Tuhan sedang memeluk bantal kapuk randu di atas ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Juli 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mandi Kota&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengar rambutmu sudah &lt;br /&gt;tersentuh tangan lelaki yang mandi di kota. &lt;br /&gt;Bulan sudah tidak lagi menetap di rahimmu. &lt;br /&gt;Minggat ke kota enam bulan lalu &lt;br /&gt;menemui perempuan yang pergi meninggalkan ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku &lt;br /&gt;masih memerankan si idiot di atas panggung dalam &lt;br /&gt;lakon jas hujan di musim panas, di kepalaku tumbuh &lt;br /&gt;janin dari perselingkuhan dengan masa depan.&lt;br /&gt;Ya! Jarum jam memang tak bisa menunggu. &lt;br /&gt;Rahimmu sudah mendidih guna &lt;br /&gt;merebus singkong di malam musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi masa. &lt;br /&gt;Akan kutaklukan kota yang &lt;br /&gt;menghadirkan lelaki di tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang September 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ruh Merindu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;: Lela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ruh yang gentayangan&lt;br /&gt;Dibias lampu merkuri jalan dan meja kantor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ruh yang gentayangan&lt;br /&gt;Mencari penawar untuk kembali ke surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ruh yang merindu&lt;br /&gt;Pematang sawah di senja hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ruh yang merindu&lt;br /&gt;Kicau burung pipit dan kelinci putih&lt;br /&gt;Yang menemani saat minum teh poci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datangilah malam yang membuatmu terlelap tidur&lt;br /&gt;Dalam gerak lembut bintang membelai rambut&lt;br /&gt;Dan temuilah ari-ari yang kau campakkan di bawah damar&lt;br /&gt;Semenjak kau menghitung umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dentum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ost kuningan 9/9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kuningan keheningan retak dan pecah&lt;br /&gt;Alarm weker berdentum keras&lt;br /&gt;Kucing hitam mengamuk memporakporandakan seisi rumah&lt;br /&gt;Adik menangisi boneka kesayangan tinggal telinga&lt;br /&gt;Ibu menjerit vas bunga berserakan dalam kubur&lt;br /&gt;Bapak amuk dendam di bawah perut&lt;br /&gt;Saudara melayat di balik layar TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Matikan weker&lt;br /&gt;karungi kucing hitam&lt;br /&gt;agar tak ada cerita horor di hari libur –&lt;br /&gt;katamu; amarah menghajar angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kuningan &lt;br /&gt;Ratusan weker siap membangunkan kucing hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I Love Friday&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indahnya jum’at. Deru mesin penghisap debu &lt;br /&gt;ditelingaku seperti musik dangdut yang mengairahkan &lt;br /&gt;kembali otot dan otakku, setelah lama dipenjara &lt;br /&gt;rutinitas sembilan jam sehari, empat puluh jam seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lengkingan sirine tanda pulang menyeruak ruang dalam sekat kepalaku&lt;br /&gt;Aku teringat kepadamu akan janjiku untuk menemanimu &lt;br /&gt;dalam malam di sebuah bioskop yang memutar film – French Kiss – &lt;br /&gt;yang ingin sekali aku menjadi aktor utama di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memburu waktu, aku pakai kembali jiwa seorang tahanan keluar dari bui. &lt;br /&gt;Kususun kembali rencana penjajahanku akan bibirmu yang penuh rempah-rempah cinta, dibalik benteng sehelai jilbab yang belum bisa aku taklukan dalam &lt;br /&gt;hitungan tiga bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta Jum’at.&lt;br /&gt;Inilah denahku – setelah membuka pintu maghrib di sabtu pink – aku keluar kamar menjadi seekor kelinci putih yang imut – meloncat di tiga pekarangan  tetangga dengan pelan – setelah sampai di pintu kontrakanmu dan kau keluar – kuberi kau setangkai bunga Bank dan aku berkata “Ayo kita mandi” – kau pun setuju – kita berdua pergi ke bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Love Friday.&lt;br /&gt;Meskipun aku harus gigit kantung baju seragam kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Agustus 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;R.U.P&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Rahasia Umum Pekerja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di areal toilet, papan peringatan&lt;br /&gt;- NO SMOKING, NO NAKED LIGHT -&lt;br /&gt;hanya berlaku di papannya saja&lt;br /&gt;ketika pintu toilet di tutup, hanya ada aku&lt;br /&gt;puntung rokok sisa tadi pagi dan&lt;br /&gt;burung kutilang yang sedang berlatih orasi&lt;br /&gt;guna unjuk rasa malam nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang juli 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cintamu Reject&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istirahkan cinta sayang, dari rutinitas kerja sembilan jam sehari &lt;br /&gt;karena aku tak bisa terus mencetaknya dengan mould yang sudah kadarluarsa. Targetku adalah kualitas bukan kuantitas yang telah membungkam &lt;br /&gt;keinginanku untuk bersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku terlalu lelah berdiri dan tangaku pegal &lt;br /&gt;selalu kau suruh menghaluskan cinta yang kasar dengan air pengorbanan dan &lt;br /&gt;pisau kejantanan yang karatan, sedang kau mengongkang kaki di depan tebal dan rumus mencari laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau sayang, selama ini aku menerima keluhan dari &lt;br /&gt;konsumen di luar sana tentang mutu cinta yang kau berikan kepadaku. &lt;br /&gt;Mereka bilang ; Cintamu Reject!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Juli 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Children Of Heaven*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki dengan selusin mendung seberkas sinar di atas aspal&lt;br /&gt;berlari mengejar sepasang sepatu &lt;br /&gt;buat adik perempuannya yang bertelanjang kaki &lt;br /&gt;pergi ke sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga memberinya hadiah;&lt;br /&gt;Ikan mas di kolam yang memaguti luka &lt;br /&gt;di kakinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Februari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CINTA, CINTA DAN CINTA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau jatuh cinta;&lt;br /&gt; SIAPKAN KOPER DAN ISINYA&lt;br /&gt;Jika kau kasmaran;&lt;br /&gt; MINUMLAH JAMU TOLAK ANGIN&lt;br /&gt;Jika kau putus cinta;&lt;br /&gt; BERAKLAH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Maret 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelayat Matahati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kau melayat &lt;br /&gt;aku dipekuburan waktu&lt;br /&gt;Dengan isak rindu di samping &lt;br /&gt;nisan kenangan kita yang kusam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sucikah airmatamu&lt;br /&gt;Hingga bisa membangkitkan &lt;br /&gt;tubuhku dari masa lalu&lt;br /&gt;Yang telah menyayat kejantananku!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bersihkah lidahmu &lt;br /&gt;yang merapal azimat perindu&lt;br /&gt;sebagai 250 hari &lt;br /&gt;pada hati yang dikafani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kira kita sudah sepakat&lt;br /&gt;Menjadikan cinta sebagai mayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Januari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerikil Yang Menggelombangkan Bayang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuhan kerikil ke dalam air&lt;br /&gt;Menggelombangkan bayang sekujur tubuhmu&lt;br /&gt;Yangs edang bermain dengan ikan dan belut&lt;br /&gt;Di antara batu dan rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpicing &lt;br /&gt;Saat buti-butir air menampar&lt;br /&gt;Pori-pori kulit wajah yang&lt;br /&gt;Tadi memandangmu tuk sejenak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama tetesan hujan bulan maret&lt;br /&gt;Yang tersaring zat hijau daun kamboja&lt;br /&gt;Biasan cahaya datang membawa pesan Ibu alam&lt;br /&gt;- pergilah ke arah Barat! -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Maret 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kado Buat Pemimpin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kirmkan&lt;br /&gt;Tulang lengan kananku&lt;br /&gt;Yang kugores lurus dengan belati&lt;br /&gt;Kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rahasia Malam Lebaran*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburan siapa terlihat di bulan&lt;br /&gt;Waktu malam lebaran&lt;br /&gt;Hanyalah maqam orang asing di surga&lt;br /&gt;Yang memaknai bulan sebelum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, Maret 2003&lt;br /&gt;*Judul Puisi Sitor Situmorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rajahku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;: SCB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manteramu taring kucing&lt;br /&gt;manteraku telinga kelinci&lt;br /&gt;bersimbah keringat di atas panggung&lt;br /&gt;imajimu daging dihantam kapak&lt;br /&gt;imajiku kapak menghantam cermin&lt;br /&gt;segala rasa segala cara&lt;br /&gt;segala ada mula dari tak ada&lt;br /&gt;mengapa tak kudapat kucing&lt;br /&gt;dalam sangkar yang menggantung&lt;br /&gt;dari manteramu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini rajahku&lt;br /&gt;segala kembali pada mula membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang Februari 2004&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-2918616447872145843?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/2918616447872145843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=2918616447872145843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/2918616447872145843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/2918616447872145843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/02/episode-laron-sang-pemburu-bertahun.html' title='puisi'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-911152303692186253.post-5367167598353471467</id><published>2008-02-28T06:30:00.001-08:00</published><updated>2008-02-28T07:00:49.735-08:00</updated><title type='text'>its, me!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/R8bF9OP2b6I/AAAAAAAAACc/QwGipcZ8Gp4/s1600-h/gue.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/R8bF9OP2b6I/AAAAAAAAACc/QwGipcZ8Gp4/s320/gue.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172038877668863906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/911152303692186253-5367167598353471467?l=mahdiduri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahdiduri.blogspot.com/feeds/5367167598353471467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=911152303692186253&amp;postID=5367167598353471467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/5367167598353471467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/911152303692186253/posts/default/5367167598353471467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahdiduri.blogspot.com/2008/02/blog-post.html' title='its, me!'/><author><name>mahdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07167619906151752194</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sbRb1AFHWgc/R8bF9OP2b6I/AAAAAAAAACc/QwGipcZ8Gp4/s72-c/gue.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
